Minggu, 31 Desember 2017

Bye 2017 (sambungan tipes oh tipes)

Bagi saya, menjalani tahun 2017 serasa seperti menaiki roller coaster, atau secara rohani saya bilang seperti menjadi bangsa Israel yang dipimpin Allah mengembara di padang gurun. Berulang kali ketika sedang down saya bilang sama Tuhan kalau saya gak mau menjadi seperti bangsa Israel generasi pertama yang sudah berlelah lelah tahunan hidup di padang gurun tapi pada akhirnya ditolak Allah, tidak diperkenankan masuk ke tanah perjanjian. Saya berulang kali jatuh seperti bangsa Israel yang tegar tengkuk dan hobinya murmuring, berkeluh kesah, komplain, MARAH, kuatir, sebagai perwujudan sikap hati yang kurang percaya. Sepanjang Sigi sakit, saya benar-benar bergumul dengan bad temper, marah marah marah dan marah sepanjang hari dengan siapapun, termasuk dengan Tuhan. Sampai desperatly hopeless... Saya baca sana sini, pengen tahu apa maunya Tuhan dengan ini semua, kok rasanya seperti Sigi sakit gak ada habisnya. Sampai Sigi sendiripun bingung dan kadang bertanya "mami, aku sehat gak sih?" pernah juga dia tanya begini, "Sigi makan bubur sampai kapan? Sampai punya istri atau sampai punya anak?" saya tertawa tapi hati menangis.
Terakhir saya membaca surat Paulus kpd jemaat di Filipi, dia tulisakan
Filipi 4:4  Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!

Di beberapa suratnya yg lainpun dia tulisakan hal yg sama agar kita bersukacita senantiasa di dalam Tuhan. Saya baca berkali2 tetap tidak masuk di akal saya, mana bisa saya bersukacita saat anak saya umur 4th berkali2 terkena tipes?
Finally, I go deeper with this verse.
Saya pelajari surat Paulus, ternyata dia menuliskan surat ini dlm keadaan terpenjara, di usia yg sudah tua sekitar 70 tahun, tidak lagi bisa bekerja membuat tenda shg tdk memiliki penghasilan, dan gereja2 yg dia rintis belasan tahun lalu sekarang sedang mengalami kesukaran karena penganiayaan dari Romawi dan banyaknya pengajaran sesat. Mustinya sama sekali tidak ada alasan baginya untuk bersukacita, tetapi Paulus memilih utk bersukacita di dalam Tuhan. Sukacitanya bukan terletak pada keadaan, atau sikon hidupnya, tetapi pada Kristus dan injilNya. Paulus bersukacita krn dlm perjara dia bisa menulis byk surat kpd gereja2 yang akhirnya menjadi alkitab yg kita baca sekarang. Di penjara juga dia berhasil menginjili penjaga penjara yg berganti tiap 4 jam shg banyak dari penjaga penjara hingga perwira percaya kepada Yesus (Fil 4:22 orang2 di istana Kaisar menjadi org kudus yg percaya kpd Yesus). Di penjara ini pula Paulus memiliki banyak waktu untuk berdoa.

Belajar dari Paulus, Tuhan membuka hati saya untuk melihat sukacita yang sejati itu bukan datang dari badan yang sehat, anak2 yg taat, uang yang limpah ruah, bahkan bukan pula dari teman2 yang banyak. Tapi sukacita sejati datang dari Kristus, kita happy saat Injil Yesus dibagikan, kita senang saat ada orang yg penasaran tanya2 soal Tuhan, kita happy saat liat anak kita percaya sama Tuhan sekalipun dia terus2an sakit.
Suatu kali saya bacakan Sigi alkitab ttg Yesus yg sembuhkan hamba perwira yg sakit. Yesus memuji iman sang perwira karena dia bilang bahwa Yesus gak perlu datang ke rumah saya, cukup katakan saja hamba saya sembuh, pasti dia sembuh. Dan hambanya itu beneran sembuh.
Sigi lgsg nyeletuk, makanya mami percaya dong, percaya! Sigi pasti sembuh! Mami sih gak percaya percaya 🙃
Lalu saya tanya, emang kamu percaya?
Dia jawab: Iyalah! Kalau Tuhan Yesus bilang aku sembuh, pasti aku sembuh!

Kata2 dia saat itu jadi tamparan buat hati saya, selama ini dibibir saja saya percaya, tapi pikiran saya terus berkelana mencari dokter kemana2, dari dokter umum sampai professor kita kunjungi. Dan selalu saja end up with the same result: dokter juga manusia, hanya Yesus tabib yang ajaib, dokter segala dokter.
Disinilah saya sedikit mengerti ttg sukacita Paulus, walaupun Sigi sakit saya bersukacita karena dia percaya kepada Yesus.

Juga tentang tukang sayur langganan yg pernah kepergok mengais2 sampah buku di depan rumah krn sedang mencari Tuhan. Akhirnya Tuhan kasih kesempatan ngobrol agak panjang untuk sampaikan ttg Allah, manusia dan dosa. Hati sedih melihat pandangan matanya yg hopeless melawan dosa hingga dia gelisah dan terus mencari ttg Tuhan. Akhirnya saya bisa mencicip sukacitanya Paulus, sukacita saat membawa satu jiwa kepada Kristus. Saya belum lengkap sampaikan injil ttg Kristus padanya, tapi sudah seminggu lebih si abang tukang sayur tidak lewat lagi. Saya baru ceritakan bahwa saya kenal Tuhan yg dia cari selama ini, yg mau mengampuni dan bisa melepaskan kita dari segala dosa kita. Saya masih menunggu dia datang lagi, dan masih mendoakannya.

Akhirnya tahun 2017 benar2 tahun pengembaraan padang gurun saya, sama seperti bangsa Israel di padang gurun mengalami perjumpaan dengan Allah, sayapun demikian. Diajari untuk lebih dalam melihat hati Allah.
Sampai saya selesai menulis notes ini, keadaan masih belum berubah, anak dua-duanya masih sakit, Sigi msh belum selesai minum antibiotik. Tapi Tuhan sudah ubah hati saya. Untuk tidak terhimpit rasa kuatir tetapi mampu bersukacita di dalam Tuhan.

Senin, 18 Desember 2017

Tipes oh tipes

Sudah 4 bln episode Sigi sakit tipes ini berulang. Dan skrg adl yg ke4 kalinya. Saya jatuh bangun menjalaninya. Ada masa2 saya begitu beriman percaya Tuhan punya rencana baik dibalik ini semua. Tapi lebih sering justrus saya babak belur menderita dalam depresi yg terus menerus dan semakin dalam. Saya bukan hanya jadi galak sama suami dan anak, bahkan saya marah besar kepada Tuhan. Padahal saat marahpun saya sadar saya pasti celaka, masak ciptaan ngelawan sama Pencipta, sama saja cari mati. Tapi saya tidak sanggup melawan emosi saya yg berlarut2 tertekan dalam kelelahan fisik dan mental. Tuhan menunjukkan siapa saya yg sebenarnya, seorang perempuan pemarah dengan bad temper yg sangat buruk, kasar bahkan seringkali saya sangat kejam memperlakukan Sigi kalau sedang tidak waras. Kemarin malam lengan bekas suntikan DPT yg masih bengkak saya pukul sampai dia menangis kesakitan krn saya hilang kesabaran menghadapi dia yg gk bisa diam. Pikiran saya memerintahkan saya utk memaksa dia diam istrht krn tipes gk boleh byk gerak, tp namanya anak 4 th bgmn caranya bisa diam sepanjang hari tanpa bosan, apalagi Sigi yg superaktif. Dalam setiap keterpurukan saya menghadapi penyakit tipes Sigi yg seperti entah kapan dan dimana ujungnya, Tuhan seringkali terasa jauh, terutama ketika saya sedang marah padaNya. Tapi dalam setiap episode itu pula Tuhan selalu berbicara kepada saya. Tipes pertama Dia bawakan saya buku the purpose driven life, yg kedua dia bawakan saya kitab amsal saat saya terus2an mendesakNya meminta diberikan hikmat. Tipes ketiga Dia kasih saya bible studi online anxious for nothing by max Lucado, dan skrg ini yg terakhir Dia kasih saya kitab Filipi, yang menurut saya ini sambungan banget dari anxious for nothing.
Saya benar2 bingung ketika dibilang bersukacitalah senantiasa, be anxious for nothing, perintah2 itu seperti perintah yg mustahil dilakukan. Saya mencari2 apa itu bersukacita, mana bisa saya bersukacita saat anak saya berkali2 sakit. Mana bisa saya bersukacita saat saya habis segala-galanya (hati, pikiran, emosi, fisik (uang saya tidak punya)), semua yg saya punya rasanya benar2 habis utk melawan tipes anak saya. Saya babak belur secara fisik, mental dan spiritual. Ini semua seperti mimpi buruk yg entah kapan berakhir. Banyak perkataan Tuhan saya mengerti sesaat, kemudian saya lupakan saat penderitaan dan kesulitan kembali datang. Saya seperti Musa yg posisi default nya adl marah. Juga seperti bangsa Israel yg tegar tengkuk dan hobi bersungut2, berkeluh kesah, murmuring. Konyolnya krn sepanjang hari cm bertiga sama anak2 jd yg bisa kena semprot amarah ya cuma mereka, terutama Sigi (dan sekali2 suami juga kena). Sebenarnya akar kemarahanku adl tidak terima Tuhan mengizinkan keadaan yg begitu buruk ini terjadi padaku, pada anakku Sigi. Aku menolak pemberian Tuhan, aku menolak rencana Tuhan. Bahkan pernah terjadi saya marah2 teriak2 di kamar mandi "Tuhan kl Kau mau mengubahku mjd ibu yg lebih baik, jgn pakai cara kekerasan seperti ini, gak akan berhasil, Engkau gagal, aku gak suka, aku benci padaMu" berulang2 saya marah seperti itu stlh sblmnya saya marah2 sama Sigi. Dia di luar panggil saya, Bunda marah knp?
Dari dalam saya teriak "diam, bunda gak marah sama kamu, bunda marah sama Tuhan!
Stlh keluar dr kamar mandi dia bertanya knp bunda marah sama Tuhan? Saya jawab "krn Tuhan gak kabulkan doa  bunda biar kamu sehat gak kambuh lg tipesnya".
Dia terdiam lalu saya menangis. Saya bilang seharusnya bunda gak marah, seharusnya bunda terima saja kalau memang Tuhan izinkan km sakit, tapi hati bunda terlalu susah sampai akhirnya jadi marah.
Beberapa kali peristiwa jatuh bangun saya seringkali membawa kami pada faith talk. Seperti hari ini, ketika saya temani dia baca renungan saat teduhnya bahwa Tuhan pencipta samudera raya Tuhan berarti pemilik samudera. Begitupun bunda, Tuhan yg ciptakan, jd bunda adalah milikNya. Kalau Tuhan mau ambil boleh gak? Awalnya dia bilang gak boleh, kan Sigi sayang (sambil pegang tangan saya), lalu saya jelaskan bahwa seperti samudera adl milik Tuhan, bundapun jg adl milik Tuhan, dan Tuhan bisa ambil kapanpun Dia mau. Akhirnya dia bilang, mmmmm iya deh berarti gpp kl Tuhan ambil bunda. Renungan dia ini sbnrnya ngena banget ke saya. Dari sejak dia tipes pertama plus dbd Tuhan sudah bilang (lewat buku the purpose driven life) bahwa Sigi adl milikNya, dan kapanpun Dia mau ambil, itu adl kedaulatanNya. Cm seringkali saya menawar, janganlah Tuhan, sudah 4th lebih saya babak belur membesarkan dia dg tangan saya sendiri, mengasihi dan merawat dia setiap kali sakit dan bahkan berkali2 benci setiap kali dia sakit. Janganlah Kau ambil dia, please. Disitulah Tuhan tunjukkan siapa allah yg saya sembah skrg, bukan lagi Yesus Tuhan, tp Sigi anak. Fokus saya hanya pd Sigi. Sekalipun Senna sudah 6 bln lahir di dunia, yg ada di pikiran saya hanya Sigi, boro2 mikirin suami atau apalah yg lain, rasanya setiap sudut pikiran saya dipenuhi dg yg namanya Sigi. Sigi sudah berhasil menggeser posisi Allah di hati dan pikiran saya. Pun juga menggeser posisi hal2 lain tmsk suami saya. Empat bulan episode tipes ini benar2 mencelikkan mata saya, ngapain aja saya selama ini. Saya gak beda sama ahli taurat dan orang farisi yg tau byk ttg firtu, yg terlihat saleh dan sok rohani (bahkan lebih sering sombong rohani), tp di dalam diri saya kering, sampai hampir mati. Saya terlalu lama tidak bertumbuh, terus2an kerdil, karena itulah saya tidak berbuah. Buah2 roh kasih, sukacita, damai sejahtera, kebaikan, kelemahlembutan, kesabaran, pengendalian diri, kok semuanya gak ada di saya. Kasih saya berdasarkan situasi dan kondisi, kalau semua oke, saya hangat dan penuh kasih ke suami dan anak2. Saya tidak sabaran, gampang marah, kalau sudah emosi susah sekali mengendalikan diri, kadang sangat kejam dan tega. Benar2 bobrok sekali dalam diri saya ini. Berulang kali saya sadar, tp utk berbalik dan memperbaikinya sulit sekali. Misalnya pagi menjelang siang udah sadar ttg hal ini dan komit utk belajar menguasai diri, lemah lembut dan gak gampang marah. Sorean dikit udah eror lagi, liat anak sakit, rewel dan susah diatur balik marah2 lagi. Sampai sering saya tiba di satu titik merasa bahwa saya ini sepertinya adl kambing, bukan domba. Bukan tmsk salah satu dari org yg diselamatkan. Saya ini seperti sbagian besar org Israel angkatan pertama yg posisi default nya adl murmuring, complaining, bersungut2, bentuk ketidakpercayaannya kpd Allah. Yang pd akhirnya ditolak dan dibinasakan di padang gurun, pdhl udah capek bertahun2 muterin gurun melewati berbagai macam kesulitan hidup, namun pd akhirnya tdk mendapat bagian dlm keselamatan kekal, itu benar2 tragis. Jujur saya sering menangisi diri saya yg sebobrok ini, sering saya bilang saya ini ibu paling buruk di dunia, saya ini wanita yg sangat mengerikan, mana mungkin Tuhan mau mengampuni dan menolong saya yg tercela ini. Kontinusly saya masuk ke lubang depresi, namun lagi2 Tuhan angkat saya dari pusaran maut ini.
Dari keempat episode tipes Sigi ini saya ingin membagikan kepedulian Tuhan kpd saya, org paling buruk di dunia yg sangat pantas dimurkai, tp justru dikasihi, diampuni, dan dipulihkanNya.
Selama masa kesukaran ini saya terus mencari apa itu sukacita. Kl sukacita itu artinya senang, mana mungkin saya bisa senang saat anak saya sakit, atau saat saya merana dalam kesusahan saya seorang diri tanpa teman yg benar2 mengerti.
Jawaban pertama datang dari kotbah pendeta minggu ini. Dia bukakan ttg 4 tokoh yg dapat bersukacita dlm keadaannya yg sedang tidak baik. Bersukacita dia artikan bukan perasaan senang, tetapi perasaan lega yg luar biasa karena mengetahui yakin ada harapan. Dia gambarkan seperti kita berjalan melewati lorong yg gelap, sampai berasa sesak nafas, nah, ketika terlihat secercah cahaya kita bisa lega, lorong gelap ini ada ujungnya dan pasti berakhir.
Tokoh pertama Yesaya, mengajak bangsa Israel bersukacita setelah selesai dihukum, pulang dari pembuangan. Tokoh kedua pemazmur bersukacita setelah mengalami penderitaan. Tokoh ke3 bersukacita saat SEDANG bertahan dalam kesusahan. Ke 4 bersukacita saat mewartakan Injil.
Kata bersukacita semakin terasa jelas bagi saya ketika belajar surat filipi. Paulus menuliskan kitab ini dari dalam penjara (tahanan rumah di Roma), dia menyewa sdr rumah yg mjd penjaranya yg dijaga ketat oleh tentara Roma shg dia tdk dpt bekerja membuat tenda, artinya dia tdk bs menghasilkan uang, dlm kekurangan. Dia berada disitupun stlh mengalami turbulensi berkepanjangan, menjalani pengadilan yg perkaranya tak kunjung diberi putusan krn oknum2 yg menanti diberi suap olehnya, menjalani perjalanan panjang utk sampai di roma diusianya yg sudah tua sekitar 70 tahunan bahkan sampai sempat mengalami karam kapal dan terombang ambing berhari2 di tengah laut. Kesulitannya terus menerus spt tidak berujung. Tapi dalam surat-suratnya dia tulis, bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan. Sekali lagi kukatakan, bersukacitalah. Ternyata rahasia sukacita paulus bukan terletak pada situasi kondisi hidupnya, tetapi pada Kristus dan injilnya.

(to be continued)

Kamis, 16 November 2017

Our Milestone


Juni 2017

Catatan pengingat kebaikan Tuhan bagi kami. Penguat keyakinan ketika suatu saat kami mulai ragu. Keinginan agar kenangan indah kami bersama Tuhan dapat terus diingat..

Bagi kami, satu tahun ke belakang menjadi tahun yang penuh petualangan. Tahun dimana kami seperti memasuki hutan belantara yang kami tidak tahu apa saja yang ada di dalamnya dan dimanakah ujungnya. Bahkan bagaimana caranya agar kami berhasil melewatinya pun, kami tidak tahu. Tapi memang benar, lebih baik berjalan dalam gelap bersama Tuhan daripada berjalan sendiri dalam terang karena berjalan sendiri bisa tersesat..

Awalnya kami berpikir bahwa akan sulit meninggalkan lingkungan rumah kami di depok dan beradaptasi dengan lingkungan baru di Kelapa Gading. Tapi ternyata tinggal di lingkungan baru tidak selalu hal yang sulit. Tuhan begitu baik memberikan kami rumah kontrakan yg relatif murah, pasar yang dekat, tetangga yang ramah, dan komunitas Sahabat Kristus dan Eureka yg kami anggap keluarga kami sendiri. Setahun tinggal di kelapa gading, kami sekeluarga begitu menikmati berkat dan tuntunan Tuhan..

Kalau ada orang yang bertanya kepada kami, sampai kapan kami akan tinggal di kelapa gading, jujur saja sampai saat ini kami tidak tahu jawabannya. Tapi yang kami tahu, Tuhan masih ingin kami disini setahun ke depan. Tp sampai kapan? Hanya Tuhan yang tahu.

Inilah beberapa milestone yang kami alami di tahun pertama "mengembara" di Kelapa Gading.

Bulan September 2016, Puji Tuhan, Angga positif hamil. Kehamilan ini memang kami nanti-nantikan mengingat usia Sigi yang sudah 3 tahun. Kami memang ingin jarak usia Sigi dengan adiknya 4 tahun. Selain itu, Angga juga ingin di umur 30 tahun, sudah memiliki 2 anak. Puji Tuhan, Tuhan mengabulkan doa kami. Akhirnya anak kedua kami yang kami beri nama Kynan Senna Widyanto, lahir di tanggal 14 Juni 2017.

Bulan Oktober 2016, saya mendapatkan SK Mutasi ke kantor baru. Setelah 7 tahun ditempatkan di KPP Pratama Jakarta Pluit (sejak Agustus 2009), akhirnya Tuhan memindahkan saya juga pada bulan Oktober 2016. Memang semua akan (p)indah pada waktunya. Cukup kaget juga Tuhan memindahkan saya ke KPP LTO 1. Tidak pernah terbayang sedikit pun akan ditempatkan di kantor itu. Tapi semua ada dalam kuasa tanganNya. Tuhan yang telah mengutus, Tuhan juga yang akan memimpin dan menyertai. Bersyukur Tuhan memberikan suasana kerja yang baru dan rekan kerja yg sangat supportif.

Dari kelapa gading ke kantor lama, cuma perlu waktu maksimal 20 menit. Ke kantor baru, paling cepat 45 menit. Puji Tuhan masih bisa merasakan macetnya Jakarta tiap hari karena banyak teman2 lain di daerah yang belum mendapat kesempatan yang sama. Semoga teman2 yang masih bekerja jauh dari homebase, terus Tuhan berikan semangat dan segera bisa berkumpul dengan keluarga di homebase.

Selama di Kelapa Gading, kami juga sangat bersyukur bisa merasakan relasi dalam komunitas KTB Sahabat Kristus yang semakin dekat. Kami bersyukur Tuhan memberikan keluarga ini bagi kami. Keluarga yang memiliki visi dan panggilan yang sama dengan kami. Betapa bersyukurnya kami karena Tuhan tidak membiarkan kami berjuang sendiri disini. Ternyata Tuhan telah siapkan komunitas bagi kami yang membuat kami terus dikuatkan dalam menjalani panggilanNya. Tak terhitung banyaknya kebaikan yang kami terima dari komunitas ini. Tentulah hanya Tuhan yang mampu membalasnya. Terima kasih yang tulus kami ucapkan kepada Keluarga Pak Budi, Keluarga Mas Bro Oboy, Keluarga Ko Donny, Keluarga Christoper, Keluarga Andrias, dan Keluarga Shanny. KTB ini telah memberi warna yang indah dalam perjalanan iman kami.



Terima kasih juga kami ucapkan kepada keluarga besar Eunika dan Sahabat Kristus, terutama guru kelas SK Sigi. Perkembangan Sigi menurut laporan guru kelas SK adalah sebagai berikut:

Evaluasi Pertumbuhan Anak (EPA) Juli-Desember 2016


 

 Evaluasi Pertumbuhan Anak (EPA) Januari-Juni 2017






Kami juga sangat bersyukur, setahun sudah Tuhan menolong Sigi untuk melewati masa preschoolnya di Eureka. Rasanya kok cepat sekali sekarang Sigi sudah mau masuk Kindergarten 1. Seperti baru kemarin kami mendaftarkan Sigi di Eureka. Sekarang Sigi sudah hafal alphabet dan number, bisa menulis namanya sendiri, mewarnai, count, tracing, maze, dan hal lain yg sepertinya tidak bisa kami lakukan waktu kami seusianya. Melihat rapor yang sangat detil dan lengkap, hanya ucapan syukur yg bisa kami panjatkan kepada Tuhan. Dan saya sendiri masih amazed dengan betapa detilnya penilaian guru Eureka kepada setiap anak didiknya. Setiap anak diperhatikan dengan begitu detil dan kami sebagai orang tua mendapatkan laporan perkembangan anak di sekolah secara menyeluruh. Kami merasakan betul bahwa Eureka menjadi partner orang tua dalam membangun karakter Illahi dalam diri anak. Tidak pernah guru Eureka menekankan hal akademis. Setiap pertemuan dengan orang tua, yang dibahas adalah bagaimana pertumbuhan karakter anak. Karakter apa yg masih harus dibenahi dan ditumbuhkan dalam diri anak. Setahun Sigi bersekolah di Eureka, semakin kami menyadari bahwa betapa pentingnya partner dalam melihat perkembangan anak. Kalau kami hanya melihat dari sisi kami sebagai orang tua, mungkin kami melihat anak kami baik-baik saja. Tapi ternyata banyak hal yang tidak tetangkap oleh kami. Atau bahkan tidak kami sadari bahwa ada suatu hal dalam diri anak kami yg perlu dibenahi. Dan dari guru Eureka-lah kami mendapatkan perspektif lain dalam melihat pertumbuhan Sigi. Kami sebagai orang tua "baru" yang belum berpengalaman, sangat bersyukur bisa mendapatkan banyak masukan dan koreksi darinEureka. Berikut rapor sigi di kelas preschool :

 Student Progress Report 2016-2017





Kami bersyukur dapat melihat Sigi bertumbuh dengan baik, bukan hanya secara akademik tetapi juga karakter. Semakin Sigi dewasa, semakin kami merasa waktu berlalu cepat sekali. Rasanya belum lama saya melihat Sigi bisa berjalan untuk pertama kalinya. Sekarang kami sudah bisa main bola bareng. Jalan pikirannya semakin logis dan menuntut kami memutar otak bagaimana caranya agar bisa menjelaskan sesuatu kepadanya dengan bahasa yg paling sederhana. Betapa bahagianya kami karena Tuhan memberikan kami kesempatan dan kemampuan untuk melihat setiap detil perkembangan Sigi hingga saat ini.

Dan setahun ke depan kami masih akan menikmati perjalanan iman bersama Tuhan di Kelapa Gading..  :)

Kamis, 09 November 2017

VBAC Si Genduk

Beberapa tahun yang lalu saya pernah membaca artikel tentang VBAC (Vaginal Birth After Secarian) dan sama sekali tidak terpikir kalau saya akan memiliki pengalaman VBAC ini. Empat tahun yang lalu Sigi lahir secar karena saya mengalami KPD (Ketuban Pecah Dini) saat ukuran kandungan 35 minggu kurang. Saat itu dunia serasa runtuh...
Setelah tiga tahun berjalan, saya dan suami berencana meminta Tuhan anak ke-2. Ini berawal dari keinginan Sigi untuk punya adik. Setiap hari dia berdoa sambil elus-elus perut bundanya agar segera ada baby di perut bunda. Ketika Tuhan akhirnya izinkan saya hamil lagi, Sigi benar-benar happy. Kami sekeluarga overexcited menantikan baby-2 ini. Ternyata kehamilan ketiga saya ini sangat berat. Saya hiperemesis, mual muntah sangat parah sampai berat badan turun 4kg. Setiap kali keluar rumah terkena matahari, mata langsung gelap berasa mau pingsan. Sampai saya tidak sanggup lagi antar jemput Sigi sekolah. Akhirnya Sigi berangkat sekolah bareng ayahnya sekalian ke kantor dan pulangnya naik mobil jemputan opa Bun.
Rumah, suami dan anak benar-benar tidak terurus. Saya sering membeli sayur dan lauk di warung dekat rumah karena tidak sanggup ke pasar dan memasak. Seharian kerjanya cuma tiduran dan muntah. Saat itu Sigi benar-benar kasihan. Setiap kali pulang sekolah, dia cuma bisa main sendiri karena bundanya gak kuat nemenin. Tiap hari doain bunda biar sehat lagi. Dia selalu bilang kalau bundanya sedang "sakit bobok" karena bisanya cuman bobok sepanjang hari.
Sigi yang tidak terurus ini akhirnya terkapar sakit karena makannya sembarangan. Dokter bilang dia kena virus dan dirawat selama 2 hari di RS karena trombositnya terus turun dikhawatirkan terkena DBD. Untunglah ternyata virus biasa bukan DBD. Setelah Sigi sehat kita langsung berangkat ke Rembang karena Sigi sedang libur sekolah dan saya berharap kami berdua akan lebih terurus di kampung. Dan benar saja, hampir 3 minggu di kampung, kami berdua makin gemuk dan saya sudah tidak mual muntah lagi...

Waktu terus berjalan dengan keadaan yang semakin baik. Tibalah minggu-minggu terakhir menuju persalinan. Saat minggu ke-37 dokter mengatakan kami harus bersiap-siap untuk operasi secar lagi karena si baby belum turun. Tapi dokter masih mau tunggu (tidak jelas sampai berapa lama dokter akan menunggu si baby turun). Disini Tuhan bentuk hati saya untuk tidak kecewa pada apapun keputusan-Nya, untuk tetap percaya dan terus berdoa serta berusaha. Juga agar tidak sombong bila akhirnya Tuhan mewujudkan permohonan saya untuk bisa VBAC.
Hari Sabtu Sigi dan Yanu ke Ragunan untuk acara Celebration SK. Sedangkan saya ke hermina untuk ikut senam hamil. Setelah selesai senam hamil, bidan mengajari cara ngeden yang benar, serta term n condition yang harus dipenuhi untuk bisa VBAC. Yang pasti proses persalinan itu harus smooth tanpa intervensi medis. Minggu sebelumnya dr. Dewi juga sudah mengatakan demikian dan menyarankan saya untuk mengikuti senam hamil agar bisa latihan ngeden dan menjaga stamina. Dokter bilang "ibu kalau mau normal harus berusaha sendiri, kami (dokter dan bidan) hanya akan menonton dan kasih semangat, gak boleh diapa-apain (tidak boleh dipicu dengan induksi atau memakai ILA untuk pengurang rasa sakit maupun obat-obatan yang lain). Kondisi lain yang harus terpenuhi selain baby masuk panggul adalah ketebalan jahitan harus minimal sekian mm, berat badan bayi tidak boleh lebih besar dari bayi pertama saat lahir secar dan tidak boleh lahir melewati due date. Akhirnya saya mulai diet karena saat itu BB baby sudah 2,7kg padahal bayi saya yang lahir secar beratnya hanya 2kg. Bidan bilangnya sih saya kasus khusus karena kan dulu anaknya lahir premature dan BBLR, jd BB bayi yg sekarang maksimal 3kg. Untunglah diet saya berhasil, Senna lahir 2,84kg. Syarat yang lain untuk VBAC adalah harus ada kontraksi sampai pembukaan lengkap dan ibunya kuat staminanya untuk ngeden sendiri.

Setiap hari Sigi doain dedeknya agar mau turun, dan menemani saya pagi, siang, sore, malam untuk jongkok, nungging dan goyang inul sampai kaki kita berdua capek. Suami udah nyerah dan menyarankan saya untuk langsung secar saja mengikuti warning dokter. Ungtunglah dokter Dewi cuti 3 hari sehingga belum jadi nurutin suami untuk secar di minggu ke-38.

Sabtu saat senam hamil waktu itu bidan juga pesen (ngasih PR nih ceritanya) supaya dipancing pakai sperma agar segera mulai kontraksinya. Dan ternyata benar, setelah 2x berhubungan, Selasa pagi saat saya dan Sigi jalan-jalan ke taman mulai terasa kontraksi dari jam 8. Lalu keluar darah flek jam 12. Jam setengah 4 sore kita sampai di RS dicek masih bukaan 1 tapi kontraksi sudah teratur dan kuat sehingga kita dilarang pulang. Di ruang bersalin itu anak dibawah 12 tahun dilarang masuk. Jadi saya suruh Sigi dan ayahnya pulang saja karena kasian juga kalau Sigi harus tiduran di ruang tunggu. Akhirnya jam 10 malam kakung dan uti Bandung sampai di Gading jadi ada yang menemani Sigi di rumah. Suami langsung menuju RS menemani saya. Mules semakin intens tapi masih pembukaan 1. Hari itu, Rabu subuh, adalah hari pertama dr. Dewi masuk setelah 3 hari cuti. Jam 1 dicek pembukaan 2 tapi mulesnya udah parah banget. Jam 2 tiba-tiba udah pembukaan 4 dan berasa mau brojol. Akhirnya saya dilarang berdiri-berdiri lagi sama bidan, harus tiduran. Padahal kalau tiduran pas kontraksi itu sakitnya ampun, naujubileh... Akhirnya suami elus-elus pinggang belakang saya setiap kali gelombang itu datang, and really it works. Sakitnya berangsur-angsur hilang setiap kali dielus-elus suami. Jam 4 subuh bukaan lengkap dan dokter sudah siap. Pas dia cek ternyata posisi bayi masih sangat tinggi jadi dia siapin vaccum. Sayangnya, kontraksinya sudah sulit saya rasakan, seperti sudah ilang aja sakitnya, jadi saya bingung menentukan kapan momen yang tepat untuk ngeden. Saya coba asal ngeden saja tanpa menunggu datangnya kontraksi, ternyata sia-sia. Hampir setengah jam ngeden, baby belon keluar juga, cuma kelihatan rambutnya aja. Akhirnya dokter siap-siap mau vaccum lalu suami teriakin saya, "ayo kamu harus berusaha, jangan sampai anak kita divaccum". Diteriakin begitu, akhirnya terasa juga kontraksinya. Begitu dapat momen yang pas, dua kali ngeden akhirnya si genduk lahir juga.

VBAC ini benar-benar ngajarin saya untuk gak sombong dan menantang rasa sakit. Jujur dulu saya sering gemes kalau denger/baca ibu-ibu kalau cerita tentang proses persalinan normal mereka, di telinga saya selalu terdengar lebay.
"Sakitnya tuh naujubileh", "astaganaga, sakitnya warbiyasah", "ya ampiun, suakit buanget tak terkatakan". Semuanya terdengar hiperbola, sampai saya bilang sama Tuhan, "emang sesakit apa sih Tuhan? Ah paling cuma gitu doang... Saya kan tahan sama rasa sakit, kuatlah pasti...! Pokoknya saya mau normal biar cepet pulih, bisa ngurus anak-anak dan diri saya sendiri, biar gak lama-laama ngrepotin orang! (The power of POKOKnya)".
Akhirnya ketika saatnya tiba, saya bisa bilang bahwa semua yang dikatakan ibu-ibu itu FAKTA. Melahirkan itu memang benar sakit. Jadi yang Tuhan firmankan di kejadian 3:16 itu semuanya benar.
"Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak, (kondisi saya saat mengandung benar-benar payah, seperti yang saya ceritakan di awal); dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu (iya memang benar-benar sakit), namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu."
Berahi disini bukan hanya secara lahiriah, tapi juga secara mental. Kita para istri seringkali bernafsu untuk menjadi pemimpin, mengontrol suami, padahal Tuhan sudah memberikan kuasa kepada suami untuk memimpin istrinya. Itulah kenapa banyak rumah tangga tidak berfungsi dengan baik, karena nature wanita yang selalu ingin menguasai dan mengambil alih pimpinan dalam rumah tangga. Banyak suami yang akhirnya nurut-nurut saja, seperti Adam yang nurut saat dikasih buah sama Hawa. Dan perempuan itu biasanya sangat lihai dalam mempengaruhi dan memanipulasi sehingga tanpa sadar, dia sudah mengambil alih pimpinan di rumah tangga. Biasanya bukan dengan paksa atau kekerasan, tapi juatru seringkali secara halus dan manipulatif, atau seperti istri Simson yang terus menerus merengek. Rayuan, rengekan, ngambek, bahkan ancaman sehingga akhirnya keputusan-keputusan iatrilah yang diikuti, bukannta keputusan Allah yang diejawantahkan dalam kepemimpinan suami.

Wah jadi kemana-mana nih tulisannya. Intinya saya mau bilang dalam VBAC ini Tuhan membentuk hati saya untuk percaya pada kebaikan hatiNya. Ketika saya tulus meminta dalam doa dan terus berjuang berusaha untuk bisa VBAC, tetap Tuhan yang pegang kendali. Dia mau kabulkan atau tidak, itu adalah otoritasNya. Dia bentuk saya biar gak sombong dan memandang rendah pengalaman orang lain. Tapi agar terus belajar, dalam segala hal Tuhan yang pegang kendali, dan firmanNya itu benar.

Kamis, 26 Oktober 2017

Kynan Senna Widyanto

Puji syukur kepada Tuhan Semesta Alam, pada tanggal 14 Juni 2017 anak kedua kami, Kynan Senna Widyanto, lahir ke dunia. Kalau kepada saya ditanyakan, "Hal apa yg disyukuri dari kelahiran anak kedua?", saya akan menjawab, "Saya bersyukur karena Tuhan mewujudkan apa yg menjadi doa dan keinginan kami."

Yg pertama, menjadi keinginan Angga untuk memiliki 2 anak pada usianya yg ke-30. Keinginan ini sejalan juga dengan saya yg menginginkan jarak usia antara anak pertama dengan kedua adalah 4 tahun.

Kenapa 4 tahun? Karena saya beranggapan 4 tahun adalah waktu yg cukup bagi kami untuk mencurahkan semua perhatian dan kasih sayang kami kepada anak pertama kami, Sigi. Tanpa terganggu keberadaan seorang adik, Sigi mendapatkan sepenuhnya "kehadiran" kami sebagai orang tuanya. Bukan sekedar kehadiran secara fisik, tetapi jauh lebih penting peranan orang tua dalam pembangunan karakter dan penanaman nilai-nilai iman dalam diri anak. Apabila saya sebagai orang tua lalai dalam menjalankan peran ini, pihak lain yg akan menggantikannya. Saya rasa, itu yg menjadi salah satu problem terbesar dalam keluarga di zaman ini dimana orang tua tidak sepenuhnya "hadir" bagi anak mereka. Akibatnya anak mencari perhatian dan kasih sayang kepada pihak lain yg tidak seharusnya, bisa jadi pihak itu baik namun tidak jarang juga buruk dan berbahaya. Saya meyakini bahwa orang tua tidak akan pernah bisa mengganti waktu kebersamaan yg hilang di masa kanak-kanak anak kita karena masa itu tidak akan pernah bisa kembali dan yg akan tersisa hanya penyesalan.                      

Selain itu, saya merasa seorang kakak yg sudah cukup mandiri dan dewasa utk berbagi kasih sayang, akan berpengaruh baik bagi sang adik. Salah satu permasalahan yg saya sering temui dari para orang tua yg memiliki jarak usia anak yg terlalu dekat adalah sang kakak merasa "tersaingi" oleh sang adik. Sang kakak tidak siap berbagi kasih sayang orang tuanya dengan adik kecilnya yg butuh perhatian sangat besar. Akan lebih diperparah apabila orang tuanya tidak menyadari kondisi ini dan seolah mengabaikan sang kakak karena merasa sang adik lebih perlu mendapat perhatian.

Kami sebisa mungkin menghindari hal tersebut terjadi dalam keluarga kami. Sejak awal kehamilan, Sigi kami persiapkan sedemikian rupa sehingga dia siap menerima kehadiran Senna. Sejak Senna masih dalam.kandungan, kami sudah meminta Sigi untuk selalu mendoakan adik dan bundanya. Setiap check up kehamilan, Sigi dan saya selalu melihat monitor USG dan memperhatikan pertumbuhan Senna setiap bulannya. Sejak Senna dalam perut, Sigi terbiasa mengajak ngobrol dan menggoda adiknya. Dan harus saya akui, saya kalah jauh dari Sigi dalam hal berkomunikasi dengan Senna saat Senna masih di perut.

Sigi lahir waktu usia kami 26 tahun. Jadi rasanya pas sekali kalau anak kedua lahir saat usia kami 30 tahun. Dan Tuhan rupanya setuju. Senna lahir di awal usia kami yg ke-30.

Yang kedua, Angga bisa melahirkan dengan normal tanpa operasi caesar. Keinginan Angga utk bisa melahirkan secara normal memang sangat kuat. Dan saya terkadang merasa bersalah karena seringkali pesimis dengan apa yg menjadi keinginannya. Pikiran saya sederhana saja, berdasarkan cerita pengalaman orang yg pernah operasi caesar, kelahiran berikutnya biasanya akan caesar lagi. Makanya saya tidak ingin Angga terlalu berharap dan nanti akhirnya harus kecewa. Tapi Angga tetap berusaha keras agar kehamilannya sehat dan akhirnya bisa bersalin normal. Dan rupanya Tuhan setuju Angga mengalami sakitnya persalinan normal. Hehe..

Yang ketiga, Tuhan memberikan kami kesempatan untuk ikut dalam asuransi yg men-cover biaya persalinan dan check up kandungan dengan premi yg murah. Kalau mengingat biaya persalinan Sigi yg membuat kami harus menguras tabungan, menjual barang, dan berhutang, asuransi ini menjadi jawaban doa dari Tuhan bagaimana kami akhirnya bisa membayar biaya persalinan Senna di tengah banyaknya pos pengeluaran yang harus kami tanggung, antara lain biaya kontrakan rumah dan sekolah Sigi. Memang benar, setiap anak akan punya berkatnya sendiri.

Yang keempat, saya menginginkan anak kedua berjenis kelamin perempuan jadi anak kami pas sepasang. Tuhan pun rupanya setuju. Sekarang sudah lengkap sepasang dan saya pikir sudah cukuplah dua saja. Angga pun berpikiran sama, walaupun mungkin alasannya karena kapok sakit bersalin. Hehe..

Kalau mau diceritakan kronologis proses persalinan Senna, Angga mulai merasakan kontraksi sejak hari Rabu tanggal 13 Juni 2017 sekitar pk 08.00. Jam 12 siang waktu saya masih di kantor, Angga telepon saya dan bilang kalau kontraksi sudah mulai sering dan sudah mulai keluar flek. Langsung saya ijin pulang dan kami semua buru-buru ke RS Hermina Kemayoran. Tiba di RS sekitar pk 15.30 dan langsung ditangani di ruang utk bersalin. Saya dan Sigi menunggu di luar. Karena Sigi tidak mungkin ikut menunggu kelahiran adiknya di rumah sakit, saya minta bala bantuan dari Papa dan Mama di Bandung. Dan saat itu juga mereka berangkat dari Bandung menuju Kelapa Gading. Angga meminta saya dan Sigi pulang dan menunggu kedatangan Papa Mama di rumah. Lalu saya dan Sigi pulang. Saya beres2 rumah, mempersiapkan barang2 utk dibawa ke RS dan menyiapkan makan malam utk kami. Papa Mama akhirnya sampai di Kelapa Gading sekitar pk 22.00. Sigi sudah tidur waktu itu dan sebelumnya saya sampaikan kalau nanti waktu Sigi bangun, Ayah dan Bunda sedang ada di Rumah Sakit dan Sigi nanti ditemenin sama Kakung Uti. Dia mengangguk setuju dan tidur dengan pulas.

Kemudian saya langsung menuju RS dan mendapati Angga masih bukaan 1. Saat itu sekitar pk 23.00. Perut Angga dipasangi alat pendeteksi detak jantung bayi. Angga terus mengalami kontraksi dan pada saat kontraksi itulah Angga merasakan sakit yg luar biasa. Tak terhitung berapa kali Angga berteriak kesakitan dan meneriakan "Tolong Tuhan Yesus" sepanjang malam itu. Padahal saya tahu bahwa Angga jauh lebih tahan dalam menghadapi rasa sakit daripada saya. Dalam hati saya khawatir dan terus berdoa jangan sampai terjadi apa2 dengan istri dan anak saya. Pikiran saya sudah mikir2 yg aneh2 aja. Sampai akhirnya pk 04.00 bukaan mulai bertambah. Dan ternyata bukaan berjalan begitu cepat. Ketika bukaan sudah cukup, dokter merobek ketuban dan meminta Angga untuk mengejan. Angga sudah berusaha ngeden dengan kuat tapi Senna belum keluar juga. Di saat itu, dokter sudah menyiapkan vacum andaikan Angga gak kuat ngeden dan bayi tidak bisa keluar lewat ngeden alami. Tapi bersyukur akhirnya kepala Senna keluar dan tidak berapa lama kemudian seluruh tubuhnya keluar sempurna. Senna kemudian langsung ditangani oleh dokter anak, tubuhnya dibersihkan dan diberikan imunisasi hepatitis. Dan Puji Tuhan, akhirnya pk 04.50, Senna lahir dengan selamat. Ini kali pertama saya melihat proses persalinan normal dari awal sampai akhir karena Sigi dulu lahir lewat operasi caesar. Setelah disuntik vaksin Hepatitis dan IMD sebentar, Senna kemudian dibersihkan dan Angga dipindahkan ke kamar rawat. Puji Tuhan Senna dan Angga dalam kondisi sehat. Senna langsung bisa menyusu dengan baik.

Mengapa kami memberikan nama Kynan Senna Widyanto kepada anak kedua kami? Tentunya tersemat doa dan harapan dalam nama tersebut.

Seperti halnya kami sematkan Krisna pada nama Sigi, Kynan merupakan gabungan dari kedua nama kami, Kristyanu dan Angga. Mengapa kami selalu menamai anak kami dengan gabungan nama kami? Karena mereka adalah buah cinta kami. Keberadaan mereka adalah karena Tuhan yang membuat kami berdua menjadi satu. Dan harapan kami adalah mereka selalu mengingat bahwa kami berdua sangat mengasihi mereka. Walau kami tidak bisa selamanya bersama mereka, biarlah setidaknya nama kami senantiasa melekat pada nama mereka. Jadi anakku, ingatlah bahwa Ayah dan Bunda sangat mencintaimu.

Senna, artinya adalah kilauan cahaya. Tentunya kami berharap Senna menjadi cahaya yang berkilau bagi kemuliaan nama Tuhan. Kami rindu Tuhan memakai Senna untuk menjadi berkat bagi bangsa dan dunia. Biarlah Tuhan yang memampukan kami menjadi orang tua yang sanggup mendidik dan membesarkan Senna agar cahayanya tidak redup namun berkilau terang dan menerangi dunia yang gelap.

Widyanto, tentu saja adalah nama belakang saya. Sebagai seorang Ayah, menjadi kebanggaan ketika tersemat nama belakangnya pada setiap nama anaknya. Dan menjadi tugas berat seorang ayah agar anaknya pun bangga ada nama Ayah pada namanya. Kiranya Tuhan yang menolong Ayah agar anak-anak bangga menyandang nama Ayah.

Kynan Senna Widyanto, anakku, jangan pernah lupakan perjuangan Bunda untukmu ya. Ayah menjadi saksi bahwa Bunda menjalani hal yang tidak mudah untuk melahirkanmu di dunia. Kasihilah Bunda sebagaimana Bunda mengasihimu dan taatilah senantiasa perintah Bunda karena apapun yang Bunda katakan, pastilah itu untuk kebaikanmu. Ayah pun tidak akan pernah bisa memberikan kasih yang lebih besar daripada yang telah diberikan oleh Bunda untukmu.

Kami sadar bahwa kami penuh kekurangan dan keterbatasan. Kami hanyalah orang tua yg tidak sempurna namun Tuhan dengan caraNya yang sempurna telah memberikan kepercayaan kepada kami untuk mendidik anak-anakNya. Ayah dan Bunda hanyalah orang tuamu di dunia ini, tapi yang sesungguhnya memiliki keseluruhan hidupmu adalah Bapa di Sorga.

Ayah dan Bunda tidak tahu akan seperti apa hidupmu kelak. Sesulit apapun hidupmu kelak, ingatlah bahwa kamu memiliki Bapa di Sorga, Sang Penguasa Alam Semesta. Jangan pernah sekali-kali tinggalkan imanmu kepada Tuhan karena akan sia-sia saja doa dan harapan yang kami sematkan dalam namamu. Tiada lagi Senna, tak ada lagi kilauan cahaya, hanya ada kegelapan ketika kau tinggalkan Tuhan. Tak ada lagi artinya hidupmu di dunia ini anakku ketika kau hidup tanpa Tuhan.

Ingatlah Senna, Tuhan pasti punya rencana atas hidupmu. Tuhan sudah merancang hidupmu untuk mengerjakan sesuatu yg baik menurutNya. Terus gumulkan panggilan Tuhan untukmu dan teruslah setia mengerjakannya. Ingatlah, hanya sementara kita hidup di dunia. Oleh karena itu, hendaknya pikiranmu selalu tertuju pada apa yang kekal dan abadi.

Kecup dan peluk sayang selalu dari Ayah dan Bunda..

Selasa, 17 Oktober 2017

Bukan Kacamata Kuda

Pagi ini saya ke puskesmas untuk imunisasi Senna. Setelah sampai rumah, seperti biasa saya buka buku kesehatan Sigi dan Senna lalu saya bandingkan. Ternyata di usia 4 bulan, berat badan mereka berdua sama persis 6,3kg walaupun berat lahir Sigi jauh lebih kecil. Dari dulu saya selalu melihat Sigi itu bayi yang kecil, sedangkan Senna terlihat lebih besar di mata saya.
Empat tahun yang lalu, saya seringkali mengukur seberapa gemuk Sigi dengan cara melingkarkan jari2 saya pada betisnya, dan selalu saja saya merasa dia itu kurus. Padahal setiap kali saya cek di grafik berat badan anak menurut WHO, dia selalu berada di rentang normal, alias garis hijau. Dia berhasil mengejar ketinggalan berat badan walaupun dilahirkan dg ukuran sangat kecil. Selama 4 bulan BB nya naik 4,4kg dari 1,9kg menjadi 6,3kg, setiap bulan naik sekilo lebih. Tapi masih saja saya kurang bersyukur.
Sekarang ini saya baru sadar mengapa Sigi terlihat selalu kurus di mata saya. Karena dia lahir sangat kecil. Itu mindset atau kacamata yang selalu saya pakai dalam memandang Sigi. Sigi = kecil
Satu hal lagi yang makin menebalkan kacamata saya adalah hobi saya membanding-bandingkan Sigi dengan anak-anak lain. Hal-hal inilah yang seringkali membutakan mata saya untuk melihat setiap detil kebaikan Tuhan dalam diri Sigi. Dengan kondisi lahir prematur dan sangat kecil, Sigi sehat tanpa perlu inkubator ataupun perawatan khusus di NICU. Walaupun beberapa kali sakit, Sigi terus berjuang untuk sehat kembali, dan terus bertumbuh semakin kuat sampai hari ini. Perkembangan kemampuan dasar seperti motorik kasar dan halus, kemandirian, komunikasi dan sosialisasi semua berkembang normal sesuai usianya. Tidak ada yg delay... Semua itu adalah bukti pemeliharaan Tuhan bagi Sigi.
Kesalahan saya dalam membanding-bandingkan ini bukan hanya berhenti sampai hal lahiriah atau fisik saja, bahkan sekarang ini saya sedang getol-getolnya membandingkan karakter Sigi dengan anak-anak lain, yang tentu saja ujungnya selalu pada perasaan kurang bersyukur atau malah perasaan sombong dan membanggakan anak (atau diri sendiri sebagai orang tuanya) secara berlebihan. Misalnya saya dan mamanya si C ngobrol soal anak kami, lalu dia cerita kalau si C makin mandiri sejak punya adik, berangkat SK sendiri tidak menangis, banyak membantu pekerjaan di rumah dan bahkan bisa menjaga adiknya dengan baik. Setelah percakapan itu, begitu bertemu Sigi saya langsung menjadi sangat "demanding", menuntut dia secara berlebihan, mengharuskan dia untuk lebih mandiri, lebih taat, dan lebih lebih yang lain, yang menurut saya seharusnya dia bisa lakukan karena anak lainpun bisa. Pastilah sikap berlebihan saya ini terasa sangat menyebalkan bagi Sigi. Bundanya tiba-tiba jadi terlalu banyak menuntut dan kurang mensyukuri keberadaan dirinya apa adanya. Gagal melihat setiap progress dan hal-hal baik yang telah dia lakukan.
Hari ini Tuhan tegor saya bahwa setiap orang itu unik, diciptakan Tuhan dengan begitu mulia dan berharga di mataNya. Saya harus meminta hikmat dan kerendahan hati dari Tuhan agar mampu memandang dwngan kacamata Allah. Melihat setiap anak sebagai pribadi yang unik, tidak bisa dibanding-bandingkan satu sama lain, semuanya berharga di mata Allah. Dan mereka semua sedang BERTUMBUH, BERPROSES, BELAJAR.  Artinya saya harus siap menerima adanya kesalahan, ketidaksempurnaan dan kegagalan mereka. Namanya juga belajar, pasti ada saja kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan, trial and error. Kita harus berguru kepada Bapa Sorgawi yang sangat murah hati dalam memberikan pengampunan dan kesempatan kedua, ketiga, keempat dan seterusnya sampai anak-anak menjadi dewasa, bukan hanya usianya, tetapi juga dewasa iman dan pemikirannya.

"Untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda." (Amsal 1:4)

Kiranya hikmat Tuhan terus memberikan kecerdasan untuk Sigi bertumbuh semakin dewasa di dalam Tuhan, dan hikmat Tuhan juga yang menolong saya untuk menuntun Sigi berjalan di jalan Tuhan.

Sabtu, 09 September 2017

Aku siap pulang

Seperti saya yang sangat senang melihat anak-anak tertidur pulas siang ini, ternyata Tuhanpun senang melihat saya puas tidur nyenyak. Ternyata tidak melulu hal-hal rohani yang dapat membuat Tuhan senang, perkara-perkara kecil yang kita kerjakan dengan ketulusan dan senang hatipun dapat membuat Tuhan tersenyum kepada kita.
Melihat anak-anak terlelap di siang bolong begini, tiba-tiba hati saya berbisik, "mimpi apa saya bisa berada di tempat ini di waktu ini melihat wajah-wajah mungil terlelap. Sungguh anugerah Tuhan semata."
Sepertinya dahulu waktu muda, jalan hidup yang saya rancang tidaklah seperti ini. Saya pribadi yang cukup ambisius dan selalu bermimpi menjadi wanita karir yang sukses dan mengejar study lanjut S2 dan S3 ke Luar Negeri. Tetapi ternyata saya sekarang berada pada momen yang jauh lebih indah dari semua mimpi itu.

2 minggu yang lalu ketika anak-anak sakit, Tuhan benar-benar membentuk kembali hati saya. Tuhan pimpin saya untuk kembali bersaat teduh menggunakan buku the purpose driven life, dan Tuhan teguhkan sehari demi sehari bahwa saya bukan hidup untuk saat ini di dunia ini saja, tetapi Tuhan menciptakan saya untuk tujuan kekal. Saya harus memiliki perspektif kekekalan.

Selama ini saya begitu siap, yakin, berani dan mantap bila Tuhan panggil saya pulang saat ini juga, saya pasti senang sekali. Saya bisa segera bertemu dengan Juru Selamat saya. Tetapi saya sering bilang sama Tuhan, kalau saya tidak tahu bagaimana harus hidup bila Tuhan panggil lebih dulu suami dan anak-anak saya, orang-orang yang paling saya cintai.
Tuhan ingatkan, bahwa bila Tuhan panggil mereka lebih dulupun seharusnya saya tidak kehilangan sukacita karena merekapun pulang untuk bertemu Bapa Sorgawi. Meskipun ada rasa sedih karena rindu dan kehilangan, seharusnya tidak membuat saya lupa bahwa kepergian merekapun adalah hal yg baik bagi mereka.

Pemahaman ini juga membuat saya mengubah cara pandang tentang hidup kami. Selama ini saya selalu merasa bahwa jalan hidup anak-anak masih sangat panjang, mereka harus sehat, harus pintar agar menjadi orang yang berguna saat dewasa kelak. Karena itu saya sangat down dan terpukul ketika Sigi sakit tipes dan DBD sekaligus. Membaca artikel disana sini bahwa kalau nanti kena DBD untuk ke2 kalinya akan bisa sangat parah, begitu juga dengan tipes yang pemulihannya cukup lama dan bisa kambuh-kambuh. Rasanya sulit sekali bisa menerima hal ini. Dan kepikiran, bagaimana kalau Sigi sakit-sakit lagi, bagaimana kalau tidak bisa bertahan hidup, dan ketakutan-ketakutan yang macam-macam.
Tuhan tegor saya bahwa pandangan bahwa anak-anak pasti akan hidup lebih lama dari saya itu keliru. Siapa yg tahu umur manusia? Nafas kita, Tuhan pemiliknya, Dia bisa ambil kapanpun Dia mau. Siap atau tidak siap kita, tidak akan mempengaruhi kedaulatan-Nya.

Akhirnya hal ini memaksa saya untuk semakin rajin, siap sedia menyingsingkan lengan baju untuk semakin tekun memenuhi telinga, hati dan pikiran saya dan anak-anak tentang Kristus Sang Juru Selamat. Tidak bisa dipungkiri bahwa anak-anakpun adalah manusia berdosa, terlahir dalam tubuh dosa, mewarisi dosa dan hidup dalam dunia yg telah jatuh dalam dosa. Mereka sangat membutuhkan Juru Selamat untuk mengampuni dan menyelamatkan mereka.
Saya tidak tahu kapan waktunya Tuhan akan panggil Sigi dan Senna untuk pulang ke rumahNya. Karena itu, menjadi sesuatu yg sangat penting dan mendesak bagi saya untuk terus menerus menanamkan benih firman Tuhan, mendoakan serta berusaha memastikan hati mereka merespon dan menerima Yesus, percaya Yesus adalah Tuhan dalam hidup mereka dan akhirnya bisa menikmati hubungan pribadi bersama Yesus.

Waktu yang kita punya, mungkin tidak sebanyak yang kita kira. Jadi semakin giatlah membawa anak-anak kepada Tuhan.

Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikian pun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.
Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.
Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.
Filipi 1:20-22

Sabtu, 30 April 2016

Catatan ayah Sigi

Hari jumat tgl 15 April, kami berkesempatan mengikuti trial class Sekolah Eureka. Kami berencana mengikutsertakan Sigi di kelas preschool. Kami melihat sistem pendidikannya sangat baik. Lebih menekankan pembentukan karakter dan penanaman prinsip Firman Tuhan dalam diri anak. Suasana belajar dikemas dengan begitu apik sehingga anak tidak merasa bosan dan merasa sedang bermain. Selain itu, di dalam kelas anak diajarkan dengan bilingual, bahasa inggris dan indonesia. Guru-gurunya kompeten dan yang terpenting setiap anak ditanamkan prinsip Firman Tuhan dengan kuat dan sejalan dengan pembinaan Sahabat Kristus yang kami ikuti. Orang tua tidak berarti lepas tangan. Justru orang tua diwajibkan (atau mungkin bisa dibilang dipaksa) untuk turut berperan dalam pendidikan anak di rumah. Puji Tuhan, Sigi sangat menikmati kelas tersebut dan sangat excited. Kami berdua yg sempat menemani di dalam kelas juga semakin dibukakan bahwa ini hal yg sangat baik buat Sigi dalam tumbuh kembangnya dan sangat baik bagi kami sebagai orang tua. Apalagi ketika kami melihat karakter anak-anak yg sudah mengikuti kelas toddler, Tuhan menaruh kerinduan yg semakin dalam untuk menyekolahkan Sigi disana..

Secara logika manusia, banyak hal yg menghambat. Tempat tinggal, biaya hidup, proses adaptasi, kondisi ekonomi dan banyak hal lainnya. Tapi memang logika seringkali tidak sejalan dengan iman. Bersyukur Tuhan jauh melebihi logika manusia paling berhikmat sekalipun. Di masa pergumulan ini kami mengingat kembali pergumulan kami sedari awal kami memiliki anak. Saat angga memutuskan untuk resign dan menjadi fulltime mother, kami tidak tahu apakah bisa hidup dengan gajiku sebagai pegawai biasa. Nyatanya soal materi Tuhan selalu cukupkan bahkan kami bisa sedikit berbagi kepada orang lain. Walau saat Sigi lahir kami harus berhutang dan bingung bagaimana mencukupi kebutuhan bayi kecil kami, nyatanya Tuhan memberikan segala sesuatu yg Sigi butuhkan sampai kami terheran-heran atas pemberian Tuhan yg sangat limpah. Kami hampir tidak mengeluarkan uang sedikit pun utk membeli kebutuhan Sigi waktu bayi. Saat kami mendapati bahwa kelahiran Sigi yg prematur membuat Sigi seringkali sakit dan beberapa kali sampai dirawat di rumah sakit, Tuhan nyatanya cukupkan biaya rumah sakit dengan asuransi kantor dan kami bisa melihat Sigi tumbuh sehat dan pintar hingga saat ini. Saat kami bergumul bagaimana caranya kami yang tinggal di depok agar bisa mengikuti Sahabat Kristus di Kelapa Gading yg berjarak 35 km, Tuhan nyatanya menganugerahkan pinjaman mobil yang bisa kami pakai hingga saat ini. Saat kami tidak punya uang, nyatanya Tuhan memberikan kesempatan kepadaku utk bisnis kecil-kecilan jual beli motor. Ketika kami....  ah sepertinya tidak akan pernah selesai menceritakan kebaikan Tuhan bagi kami. Tentunya masih sangat banyak pengalaman iman yg kami nikmati bersama Tuhan dalam perjalanan hidup keluarga kami..

Bersyukur Tuhan memberikan konfirmasi melalui Firman dalam Saat Teduh saat kami mempertimbangkan hal ini. Mengenai kekhawatiran, Tuhan berbicara melalui Lukas 12:22-34. "Jadi, janganlah kamu mempersoalkan apa yang akan kamu makan atau apa yang akan kamu minum dan janganlah cemas hatimu. Semua itu dicari bangsa-bangsa di dunia yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu tahu, bahwa kamu memang memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu". Perikop ini berbicara keras kepada saya. Seharusnya fokus kami adalah apakah pilihan kami telah sejalan dengan pilihan Allah. Kalau hanya sekadar makan minum dan materi dunia, Tuhan yang akan mencukupkan karena Dia yg empunya segalanya. Justru kami harus khawatir ketika kami tidak mau mengikuti jalan Tuhan dan menggunakan pertimbangan logika kami saja..

Kemudian saat teduh 3 hari berikutnya dari 2 Tawarikh 20:1-13. Allah kita memang tidak dapat diduga, tetapi selalu dapat diandalkan. Bagaimana tidak, ketika Raja Yosafat hendak diserang oleh pasukan besar bani Amon dan sekutunya, Tuhan membuat lawan Yosafat saling memerangi antar mereka sendiri. Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena Yosafat telah mengambil keputusan yang tepat. Yosafat berpaling kepada Allah. Ia mengakui kedaulatan Allah serta memuji Tuhan atas kasih setia Tuhan. Yosafat tidak fokus pada persoalan, tapi berpaling kepada Allah dan mengingat kasih setianya. Betapa indah ketika mendapati Allah melakukan hal yg tak terduga ketika manusia mengandalkanNya. Kami pun diingatkan bahwa setiap persoalan seharusnya membawa kami semakin dekat kepada Allah. Dan kami melihat melalui pergumulan ini, kami semakin menikmati hubungan pribadi dengan Tuhan. Tuhan yang kami andalkan akan melakukan hal yang tidak terduga bagi kami ketika kami percaya penuh kepadaNya..

2 hari berikutnya, Tuhan kembali berbicara kepada kami melalui Bilangan 7:1-9. Angga sangat diteguhkan melalui perikop ini. Allah mempunyai rencana yang berbeda-beda untuk kita masing-masing. Semua imam yang lain menggunakan pedati untuk membawa bagian bagian Kemah Suci di padang gurun. Namun bani Kehat harus berjalan susah payah melalui jalan bebatuan dan pasir yang panas membara, dengan memikul ‘barang-barang suci yang menjadi tanggung jawab mereka’. Kita mungkin merasa bahwa orang lain mendapat tugas yang lebih mudah atau peran yang lebih mentereng. Saya sangat sadar betapa Angga mengalami pergumulan hebat ketika dirinya memutuskan untuk melepaskan pekerjaannya demi menjadi full time mother. Angga sangat smart, luwes, mudah bergaul dan mempunyai begitu banyak alasan lain untuk sukses meniti karir. Dia lepaskan karirnya demi anak titipan Tuhan yang sangat Dia kasihi. Keputusan yang sangat jauh dari kata mentereng dewasa ini. Bahkan banyak yg menganggap Angga mengambil keputusan bodoh dan hanya mencari susah sendiri. Tapi puji syukur kepada Tuhan sang Empunya Hidup, Angga memilih taat kepada panggilan Tuhan. Angga sudah mengambil jalan terbaik, bagi dirinya dan bagi keluarga kami. Jika Bapa kita yang penuh kasih telah menetapkan kita untuk melakukan tugas tertentu, pantaskah kita mengatakan, “Aku tak dapat melakukannya, Tuhan”?
Begitu pun dengan pergumulan kami untuk pindah ke Kelapa Gading. Tentu ini bukan hal yg umum dilakukan oleh kebanyakan orang. Tidak aneh ketika banyak yang bertanya, "Memang di depok gak ada sekolah bagus? Apa bagusnya sih sekolah itu? Ngapain "buang" uang segitu banyak "hanya" untuk sekolahin anak? Udah enak tinggal di depok, eh malah ditinggal kontrak rumah di daerah banjir!" Dan banyak lagi pertanyaan semacam itu. Kami biasanya hanya jelaskan sebisanya karena kami tahu tidak semua orang bisa mengerti betapa pentingnya langkah yg kami ambil. Seperti ketika Abram dipanggil keluar dari hidup nyaman dan makmur di tanah leluhurnya, meninggalkan zona nyamannya dan melakukan apa yang tidak lazim menurut ukuran manusia. Ah, Tuhan Yesus juga mau turun dari sorga ke dunia dan taat sampai mati demi mengikuti kehendak BapaNya. Bersyukur kami memiliki teladan sempurna dalam diri Yesus...

Hal lain yg menjadi konfirmasi bagi kami adalah tempat kerjaku. Kalau dilihat lagi ke belakang, Tuhan seperti menunjukan bahwa bukan kebetulan aku ditempatkan di kantor daerah Ancol yg dekat dgn kelapa gading. Tidak terbayang kalau Tuhan dahulu tempatkan aku di kantor yg jauh dari kelapa gading. Sepertinya mustahil bisa ikut Sahabat Kristus dan Eureka. Jadi jauh sebelum kami menikah, Tuhan sudah mempersiapkan jalan bagi kami untuk ikut pembinaan Sahabat Kristus, menyekolahkan Sigi di Eureka, dan kami bisa terus tinggal satu atap. Bahkan sampai sekarang kami masih terheran-heran, kok bisa-bisanya kami masuk ke komunitas Sahabat Kristus padahal tidak ada teman ataupun keluarga kami yang ada di dalamnya..

Selain itu, Tuhan juga ingatkan bahwa kesempatan ini tidak akan datang setiap waktu. Kami tidak tahu sampai kapan Allah tempatkan kami di Jakarta. Umur Sigi akan semakin bertambah dan Golden Age-nya tidak terasa akan cepat sekali terlewat. Kalau ini terlewat, penyesalan kami tidak akan ada gunanya karena mulai dari sekaranglah waktu terbaik menanamkan prinsip Firman Tuhan dalam hidupnya..

Saat keluarga kami kembali diperhadapkan di persimpangan antara Logika dan Iman, Tuhan seperti kembali menantang iman kami. Setelah selama ini Tuhan menunjukan pemeliharaanNya, apakah kami masih ragu untuk percaya sepenuhnya kepada Tuhan Empunya Alam Semesta? Selangkah demi selangkah kami akan ikut jalan Tuhan. Tuhan memang tidak menunjukan ujung jalan keluarga kami akan seperti apa, tapi ketika Tuhan ada di samping kami saat kami melangkah di jalanNya, itu sudah lebih dari cukup bagi kami..

Oiya, ada lagu yg Tuhan berikan untuk meneguhkan kami dalam masa pergumulan saat ini.
KJ 438. Apapun Juga Menimpamu

 1: Apapun juga menimpamu, Tuhan menjagamu.
    Naungan kasihNya pelindungmu, Tuhan menjagamu.
Ref.
    Tuhan menjagamu waktu tenang atau tegang,
    Ia menjagamu, Tuhan menjagamu.

 2: Bila menanggung beban berat, Tuhan menjagamu.
    Masa depanmu kelam pekat? Tuhan menjagamu.
 3: DipeliharaNya hidupmu; Tuhan menjagamu
    dan didengarkanNya doamu; Tuhan menjagamu.
 4: Cobaan apa mengganggumu? Tuhan menjagamu.
    Buatlah Yesus sandaranmu; Dia menjagamu.

Kiranya Tuhan senantiasa menganugerahkan kekuatan bagi kami untuk terus setia mengikuti JalanNya..

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan untuk selama-lamanya" - Roma 11:36

Jumat, 29 April 2016

Pengejaranku

Sekali ini lagi sebagian orang mempertanyakan kewarasan kami, saat lagi-lagi mengambil sebuah keputusan besar yang terlihat bodoh dan tidak masuk akal. Kami akan meninggalkan rumah kami, dan tinggal di kontrakan yang luasnya kurang dari setengah rumah kami. Bagi kami, inilah pengejaran kami akan harta itu. Harta yang akan menjadi warisan abadi bagi anak, cucu, dan cicit kami. Sekalipun ini bukanlah harta yang bisa dikejar dan diraih sendiri oleh manusia, tetapi hanya oleh kasih karunialah orang bisa memperolehnya.

Yang saya maksudkan, bukan sekedar memberikan pendidikan terbaik bagi anak (-anak) kami. Sebagian orang mempertanyakan apakah tidak ada sekolah yang bagus di Depok. Tetapi lebih dari itu, mencicip kenikmatan sorgawi di dunia saat ini, sambil sekaligus membagikan warisan abadi bagi generasi penerus kami.

Bayangkan, anda sedang berada di lembah yang begitu kelam pekat, dan tidak tahu cara keluar dari sana, hanya dapat menangis dan meratap. Lalu datanglah pertolongan, sebuah tangan yang memberikan tuntunan, memimpin setapak demi setapak langkah anda hingga akhirnya anda dapat keluar dari tempat yang menakutkan itu. Apakah anda akan melepaskan tangan yang telah menggandeng anda segera setelah keluar dari lembah kelam itu? Saya tidak akan pernah melepaskannya. Saya memilih untuk tetap menggandeng tangan itu sambil merayakan sukacita atas kemenangan keluar dari lembah kelam. Dan akan terus memegang erat tangan itu melewati naik turunnya lembah dan bukit di tahun-tahun ke depan.

Yang saya maksudkan di atas ialah pernikahan kami yang pernah mengalami masa kelam pekat, sedemikian buruknya hingga kami masing-masing ingin mengakhirinya, di tahun pertama pernikahan kami. Karena itu jugalah saya bisa menyebutkan "mencicip kenikmatan sorgawi" dalam pernikahan kami. Seseorang yang pernah mengalami lembah kelam dalam pernikahannya, saya kira akan dapat memahami kalau saya katakan pernikahan bahagia itu laksana mencicip kenikmatan sorgawi, sangat memuaskan.
Pertolongan itu datangnya dari Tuhan, melalui sebuah instrumen Pelayanan Bina Iman Keluarga Sahabat Kristus. Kalau kepindahan kami ini hanya untuk mendapatkan sekolah yang bagus buat Sigi, di Depok juga ada. Tapi yang sedang kami kejar sekarang adalah sekolah yang bagus buat KAMI.. Sekolah yang mengajarkan bagaimana menjadi suami, istri, ayah, ibu, dan anak yang seperti Tuhan mau. Blue print-nya memang sudah ada di alkitab, tapi kami kesulitan kalau harus mempelajarinya sendiri. Kami butuh teman seperjuangan untuk berbagi, dan mentor untuk diteladani. Ya, kami butuh komunitas. Kami telah menemukannya (mungkin lebih tepatnya kamilah yang telah ditangkap) di BIK SK. Ya, memang kamilah yang telah ditangkap, karena "kebetulan demi kebetulan" telah dirancang Tuhan untuk menceburkan kami ke komunitas ini. Tidak ada teman alumni kampus, atau teman dari daerah asal, atau teman gereja yang membawa kami ke tempat ini. "Kebetulan-kebetulan" ini kami sebut sebagai kasih karunia.

Seseorang yang mengetahui ada harta sangat berharga di suatu tempat, pastilah akan rela mengejarnya begitu rupa, meskipun itu berarti harus melepaskan atau merelakan harga yang tidak kecil. Bagi kami, inilah harta itu, harta yang layak dikejar dan diperjuangkan, yaitu pertolongan agar terus dapat menikmati pernikahan yang kaya, memuaskan dan indah di dalam Tuhan. Harta itu adalah Tuhan sendiri. Harta ini jugalah yang ingin kami wariskan kepada anak, cucu dan cicit kami.

Ya, akhirnya kami harus mengucapkan selamat tinggal kepada kota Depok, terima kasih telah berbagi kebaikan selama 5 tahun kebersamaan kita. Dan selamat datang Kelapa Gading, be good to me yah. Kami orang asing yang hanya sementara di sana, mendirikan tenda (mengontrak) sampai waktunya tiba Tuhan yang membongkar tenda kami. Dan seperti Abraham, entah kemana lagi Dia akan mengutus kami meninggalkan segala kenyamanan kami.
Kami siap menjalani petualangan seru di tempat baru bersama Tuhan. Kami mengimani bahwa Tuhan yang sama yang telah memimpin kami sejauh ini melalui "up&down" kehidupan kami akan tetap dan terus setia memimpin kami melewati "up&down" lainnya di depan.

Sabtu, 21 Maret 2015

Booster Pediacel

Sigi sudah 18 bulan, jadi harus imunisasi ulangan (booster) untuk polio, DPT dan HIB. Sebenarnya saya sudah lupa dengan jadwal imunisasi ini, udah lama tidak saya cek. Untungnya saat ke Posyandu diingatkan dan ditawari untuk imunisasi disana. Saya pernah membaca kalau booster harus sama merknya dengan imunisasi terdahulu agar kompatibel atau efektif. Setau saya kalau di posyandu tidak memakai pediacel (sepaket/kombo) tapi terpisah tiap jenis vaksinnya, yang berarti merknya pasti berbeda dangan vaksin Sigi sebelumnya. Jadi saya putuskan untuk imunisasi di RS MKD saja, tempat Sigi biasa imunisasi.

Hari Selasa malam kami bertemu dengan dr. Intan untuk imunisasi sekalian konsultasi. Ternyata Bu dokter cantik ini masih ingat sama Sigi. Saat ditanya sudah bisa bicara apa, kami sebutkan beberapa kata yang biasa Sigi ucapkan, seperti mana, dah (sudah), kuda, mam (makan), num (minum), njem (pinjem). Bu dokter mengernyitkan dahi keheranan Sigi bisa bisa "pinjem" (yang menurutnya cukup sulit) tapi malah tidak bisa mengucapkan kata yang lebih mudah, seperti "nenen". Lalu kami jelaskan bahwa untuk meminta ASI Sigi terbiasa memakai sign language, dulu awalnya kami mengajarkan sign language agar Sigi tidak merengek-rengek kalau meminta sesuatu tetapi bisa menjelaskan apa yang dia butuhkan atau inginkan. Tapi jadinya keterusan sampai sekarang, dia tidak mau berusaha untuk mengucapkan kata-kata kalau minta ASI. Kami dinasehati bu dokter agar lebih banyak memberikan stimulus pada Sigi karena usia 18-24 bulan daya serap bahasa anak sedang tumbuh pesat, sehingga diharapkan usia 2 tahun Sigi sudah bisa mengucapkan 100 kata. WoW banyak juga ya…

Selasa, 24 Februari 2015

Parable of the sower

Bulan Januari Sigi belajar perumpamaan tentang penabur di kelas sahabat Kristus. Proyek kelasnya membuat tanaman dari kacang hijau di gelas plastik. Tapi hanya bertahan sampai seminggu.
Lalu saya ajari dia untuk menanam pohon cabai di pot. Dia suka sekali. Setiap hari kami bersama menjemur dan menyiram tanaman kami. Sengaja saya buat awalnya dari buah cabai saya keringkan lalu bijinya ditabur di tanah subur (agar mirip dengan perumpamaan sang penabur). Setelah dua minggu lebih, biji cabainya baru mulai berkecambah. Kami juga belajar sabar nih menunggu pertumbuhan si pohon cabai. Semoga nanti kami bisa melihat dan menikmati buahnya, biar bisa jadi bahan belajar buat Sigi, bahwa benih cabai yang dulu dia tanam di tanah yang subur akhirnya berbuah lebat.


Barusan lihat di youtube ternyata ada juga animasi yang lumayan bagus buat Sigi tentang penabur ini.


Semoga semua pelajaran ini membekas di hati dan ingatan Sigi. Kalau mau bertumbuh dalam Tuhan dan berbuah lebat, Sigi harus memiliki hati yang lembut, seperti tanah yang baik dan subur. Sehingga Firman Tuhan yang ditabur dalam hati Sigi tidak dimakan burung di jalan, atau mati terhimpit kekuatiran dan terkikis panasnya matahari, melainkan bertumbuh subur dan berbuah lebat.





Ini gambar jenis-jenis hati dari perumpamaan tadi. Yang manakah hatimu?



Ayat hafalan bulan ini:
Efesus 6:1 Hai anak-anak taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian.

Lagu favorit Sigi sebelum masuk kelas SK adalah jari-jariku bisa berdoa, karena tiap malam sebelum tidur Sigi baca alkitab bergambar sama ayah trus nyanyiin lagu itu sebelum berdoa. Sekarang semenjak ikut SK dia jadi suka lagu haleluya Puji Tuhan karena pakai gerakan tangan digulung-gulung.

Kalau ayah dan bunda, bulan Januari diajari gimana caranya menolong anak untuk taat. 
Prinsip ketaatan (ringkasan buku Growing Kids God's Way):
1. Segera
2. Seutuhnya
3. Tanpa membantah
4. Tanpa mengeluh
"Say what you mean. Mean what you say" anak harus mengerti jelas instruksi orang tua dan ortu harus bersungguh-sungguh dengan setiap ucapannya. Sekarang kita sedang mengajari Sigi untuk merespon saat di panggil dengan datang segera (karena dia belum lancar ngomong jadi belum bisa jawab ya ya ya). Ini agak susah terutama kalau dia lagi asyik main, benar-benar susah sekali walaupun sudah diulang berkali-kali.

Ini ada beberapa tips yang diberikan di kelas SK:
1. Eye contact. Ini harus dilatih, sebagai bentuk anak menghormati dan memperhatikan kata-kata orang tua.
2. First time obidience. Sebagai bentuk penundukan hati anak. Taat itu dengan hati bukan karena terpaksa.
3. Five-minute-warning. Dilakukan ketika kita memberi instruksi tetapi si anak sedang asyik melakukan sesuatu. Tujuannya untuk memberikan waktu pada anak untuk mempersiapkan hati. Misalnya sedang seru-serunya main dipanggil Ayah untuk mandi, dikasih waktu 5 menit untuk menyelesaikan main dan membereskan mainannya.
4. No bribing. Tidak boleh menyuap anak agar menaati instruksi kita. Misal menjanjikan sesuatu saat anak menangis/berperilaku buruk agar dia mau diam. Akibatnya anak akan selalu memakai senjata menangis atau berteriak untuk meminta sesuatu dan orang tua seperti diperas. Sebaliknya, berikan reward sebagai hadiah atas usahanya melakukan hal baik sesuai kesepakatan.
5. No threatening. Tidak boleh menakut-nakuti anak, karena itu berarti memberikan ancaman dan ortu tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Anak akan merasa diperlakukan tidak adil, kalaupun dia taat, itu dilakukan dengan terpaksa bukan rela hati.
6. No negotiating in conflict. Ortu harus mencari nonconflict time untuk memasukkan nilai-nilai ke dalam hati anak, termasuk didikan dan teguran.
7. No nagging. Jangan berikan apa yang diminta ketika dia merengek. Beri contoh cara mengatakan yang benar dengan nada sopan.

Teorinya memang begitu, tapi prakteknya sangaaaaaat sulit. Perlu dilatih terus dan terus., dan tentunya sangat butuh kasih karunia Tuhan setiap hari.

Terima kasih untuk kelas SK bulan Januari, kami sangat merasa diberkati.

Selasa, 03 Februari 2015

Allah yang memberi pertumbuhan

Sudah lama sekali tidak update blog, banyak cerita terlewat tapi tak sempat tersurat. 18 September 2014 ulang tahun pertama Sigi dirayakan dengan kebaktian pengucapan syukur di rumah mamah Ti. Kami sangat bersyukur Tuhan begitu setia memelihara Sigi. Perjalanan pulang pergi ke Rembang cukup cepat dan lancar, om Yosi dan ayah bergantian menyetir mobil dan kita semua sampai dengan selamat dan sehat kecuali Bunda yang masuk angin dan diare. Selama di Rembang Sigi senang sekali karena punya teman baru, mbak Vina dan mas Rado, ada juga si urip dan karjo burung beo dan nuri di rumah kakung. Sigi suka banget sama urip. Di rumah mamah Dyah lebih seru lagi, jam 6 pagi anak-anak sudah pada bangun dan main di pekarangan. Mas Rado langsung ambil sapu bantuin mamahnya sama papah Agung bersih-bersih pekarangan. Lalu kita semua kasih makan ayam yang buanyak sekali. Tapi makanannya banyak direbut sama Timmi, anjingnya mbak Vina. Disana Sigi juga main sama kambing embek-embek. Pokoknya enak banget deh tinggal di rumah mamah Dyah, udaranya masih seger di tengah sawah banyak pohonnya, ada blumbang kolam lele juga tapi sayangnya kemarin lagi kering gak ada isinya. Semoga Sigi bisa segera main ke sana lagi ya...... Soalnya di Depok udah susah menemukan banyak binatang seperti di sana, paling adanya cuma kucing liar di jalanan sekitar rumah. Sekarang Sigi main kucing aja sudah seneng banget, soalnya gak ada yang lain sih. Pepohonan di sekitar sini juga sudah banyak yang ditebang untuk dibangun jalan tol dan apartment, sedih sekali rasanya. Tinggal di sini sangat minim mendapatkan ruang terbuka hijau yang nyaman buat main anak. Lapangan di tengah perumnaspun sudah dibeton semua, sulit sekali mendapatkan lahan bermain yang masih ada rumut dan tanahnya.

Tanggal 1 Desember kemarin akhirnya Sigi sudah bisa berjalan sendiri. Saya sedang menyiapkan makanannya saat ayah pulang kantor dan membuka pintu gerbang. Biasanya kami bukakan pintu buat ayah bersama-sama. Tapi karena hari itu pintu sudah terbuka, saya hanya bilang ke Sigi "tuh ayah sudah pulang tuh...." Tiba-tiba dia langsung berjalan sendiri dari ruang TV ke depan pintu menyongsong kedatangan ayahnya. Si ayah girang banget jadi orang pertama yang melihat Sigi berjalan hehehehe. Sekarang Sigi juga lagi hobi bantuin Bunda di dapur. Bukan bantuin masak atau cuci piring, tapi bantu ngacak-acak peralatan masak. Semuanya diturunkan dari rak trus dipakai main, ada yang dijadikan topi ada juga yang dielus-elus sampai dipukul-pukul. Dia suka meraba-raba, ada yang permukaannya kasar, halus atau berlubang. Lalu dia juga memasukkan mulutnya ke dalam tupperware tempat kue lalu bergumam wa..wa..wa.. Mungkin dia merasa suaranya kok jadi aneh bergema gitu hehehe. Setiap hari semakin bertambah kepintarannya.

Oia, post ini saya beri judul "Tuhan yang memberi pertumbuhan" karena mendadak teringat dengan ayat pegangan zaman kuliah dulu kalau lagi pusing mikirin AKK yang kadang terlihat sulit bertumbuh. Ayat inilah yang seringkali memberikan penguatan dan penghiburan. 1 Korintus 3:6 Aku menanam, Apolos menyiram tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Sekarang Firman Tuhan inilah yang memberikan penghiburan bagi saya ketika beberapa waktu yang lalu Sigi (saat usia 13 bulan) dua kali sakit dalam satu bulan. Sampai ada teman gereja yang mempertanyakan mengapa Sigi sering sakit dan badannya terlihat kurus. Saya berusaha semampu saya untuk memberikan dia makanan yang bergizi, juga mengajak dia setiap hari bermain di luar rumah. Namun tetap saja hal itu tidak memberi jaminan bahwa dia tidak akan sakit, bukan? Sayapun mengaminkan nasihat suami bahwa hati yang gembira adalah obat yang manjur. Sedapat mungkin saya mengajak Sigi bermain agar hatinya gembira. Sebesar apapun usaha saya menjaga Sigi, tetaplah hanya Tuhan yang mampu memberikan pertumbuhan.

Awalnya Sigi hanya batuk lalu sering muntah. Pagi-pagi diantar om Yosi ke dokter hanya diberi obat antibakteri buat batuknya. Seharian muntah terus, bahkan minum air putihpun muntah. Akhirnya dibawa ke RS sama ayah dan kata dokter sudah hampir dehidrasi. Malam pertama di RS ternyata Sigi diare. Berdasarkan hasil cek lab Sigi terkena virus lalu ditunggangi bakteri makanya jadi diare. Sigi opname selama 4 hari dan mendapat terapi inhalasi karena batuknya sudah semakin parah. Setiap kali datang petugas inhalasi Sigi langsung ketakutan dan menangis sepanjang waktu inhalasi padahal tidak sakit, hanya takut saja hehehe... Setelah sembuh, seminggu kemudian Sigi sakit lagi, demam lalu muncul merah-merah di kulitnya. Menurut dokter karena terkena virus, tapi dokter tidak memberikan obat hanya vitamin agar mau makan banyak. Puji Tuhan sigi cepet sembuhnya.

Kemarin usia 14 bulan ujung penis Sigi iritasi kemerahan dan ada putih-putihnya seperti nanah lalu pecah. Kami bawa ke dokter disarankan untuk disunat. Lalu kami mencari second opinion ke dokter Sigi waktu bayi, dr. Intan Tumbelaka. Menurut beliau hanya iritasi tidak perlu disunat nanti bisa sembuh dan sebaiknya tidak memakai diapers lagi. Setelah 2 hari diberi salep akhirnya sembuh tanpa perlu antibiotik seperti saran dokter yang pertama. Dan kabar baiknya, Sigi jadi mulai belajar pipis di kamar mandi. Sekarang usia 16 bulan Sigi udah jarang ngompol kalau siang, asal rajin diajak pipis di kamar mandi. Tapi kalau tidur (siang maupun malam) pasti masih ngompol.

Mulai Januari Sigi totschool di rumah sama bunda. Awal-awal kita berdua excited banget, dan Sigi selalu betah tiap dikasih tools baru. Sekarang bundanya kehabisan ide, dan tiap kali dikasih tool yang sama Sigi pasti bosen. Contohnya aja main biji-bijian, sekali dua kali main kacang hijau or kedelai bisa betah sampai setengah jam, sekarang paling gak sampai 5 menit udah diberantakin trus ditinggal. Begitupula nasib sedotan warna-warni, magnet kulkas maupun bola pingpong. Yang masih bertahan agak lama cuma mainan colorful shape yang dimasukin ke bola sesuai bentuknya (soalnya agak susah dan Sigi belum berhasil menaklukkannya hehehe). Mainan lingkaran2 yang dimasukkan disusun berbentuk menara, Sigi juga sudah pintar sejak usia 15 bulan. Hari ini ayah beliin mainan baru biar Sigi gak bosen dan bisa lebih banyak belajar.

Januari ini Sigi juga sudah masuk kelas sahabat Kristus. Setelah dua kali pertemuan, Sigi mulai menikmatinya, nyanyi lagu-lagunya, dengerin ceritanya juga mainannya banyak. Cuma satu yang dia belum cocok, makanannya. Maklum giginya baru ada 6 di depan jadi belum bisa mengunyah snack yang keras, bahkan kemarin sempet keselek sampai muntah. Sejak ikut sahabat Kristus, Sigi jadi senang dibacain buku cerita. Setiap malam sebelum tidur, gosok gigi, cuci tangan, baca buku sama ayah trus berdoa lalu tidur. Minggu ini di SK Sigi belajar kalau benih firman Tuhan ditanam di tanah yang subur, maka akan bertumbuh dan berbuah lebat. Jadilah proyek minggu ini kita menanam pohon, tapi cuman dari kacang hijau dijadikan kecambah di gelas plastik. Tadi seharian lihat tanamannya mbah Talan di lapangan. Besok bunda mau nanam daun saga dan pohon cabe di pot, semoga bisa tumbuh. Sekalian Sigi belajar menanam pohon beneran.

Oia, hari ini tepat satu tahun saya menjadi istri dan ibu penuh waktu, gak berasa banget. Senang sekali bisa menikmati kasih karunia Tuhan yang luar biasa ini. Tidak sedetikpun kami ditinggalkan, dan tidak sekalipun kami kekurangan. Bahkan sekarang kami sudah memiliki satu orang anak asuh di bangku SMP. Kami bukan hanya dipelihara Tuhan, bahkan kami dipakai menjadi saluran berkatNya. To God be the glory.

Jumat, 08 Agustus 2014

Time Flies



Time flies, so fast.
Cepet banget Sigi udah mau 11 bulan, bentar lagi setahun trus meninggalkan masa baby nya menjadi toddler. OMG, cepet buanget. Rasanya baru kemarin saya mendengar tangisan pertamanya di ruang operasi yang super dingin itu, lalu merasakan bibir mungilnya menempel di nipple saya. 3 hari pertama menjadi ibu dipapah suami saya 2 jam sekali bolak-balik ke ruang bayi untuk menyusui Sigi. Nangis berderai-derai air mata meninggalkan Sigi phototeraphy di RS karena kuning. Bejibaku memompa ASI untuk memastikan dia mendapatkan cukup makanan.

Rasanya baru kemarin sayang, kamu dipeluk & ditimang bunda. Diajari bunda makan, lalu muntah. Baru kemarin kamu main gitar sama ayah, becanda main cilukba sama bunda digendongan ayah. Kok cepet banget ya rasanya waktu berlalu. Berntar lagi kamu bisa berjalan bahkan berlari. Tidak pernah sia-sia keputusan kami untuk menjadikan kamu seorang anak yang diasuh seorang ibu penuh waktu. Sungguh sangatlah berharga dan tak tergantikan. Waktu (kronos) tidak akan pernah bisa diputar kembali, itu adalah anugerah yang gak boleh dilewatkan dengan percuma.

Sigi First Time to Bandung


Libur lebaran Sigi main ke Bandung selama seminggu. Kami berangkat jam 5 pagi, sampai di rumah kakung jam 10. Di tengah jalan sempet istirahat di rest area, Sigi maem bubur promina tapi gak doyan, akhirnya muntah deh. Emang dari dulu gak pernah doyan bubur instan, cuma mau makan bubur buatan bunda. Puji Tuhan perjalanan lancar walaupun ada beberapa titik macet, maklumlah dua hari lagi kan lebaran. Ini adalah kali pertama Sigi ikut perjalanan agak jauh, sekalian percobaan sebelum pulang kampung ke Rembang bulan September nanti. Selama ini paling mainnya ke sekitaran Jabotabek. Kami sangat bersyukur Sigi gak rewel sepanjang perjalanan dan pastinya sehat.

Seperti biasa, pertama ketemu kakung uti pasti nangis, kaget kali ya udah 2 bulan gak ketemu. Setelah digoda2in selama beberapa jam baru deh mau main bareng. Kalau ibarat mesin, Sigi adalah diesel yang panasnya lama, tapi begitu panas tenaganya gak ada habisnya hehehe... Selama di Bandung Sigi tiap hari jalan ke rumah eyang2nya, ada eyang Suti dan Jajang, eyang Bangun dan Nanik, trus ke eyang Totok dan Yeni. Sigi juga main ke Borma dua kali, duduk di atas trolli trus teriak2 liat permainan anak2 yang suaranya kenceng dan warna-warni. 

Sigi tiap hari dikasih ati sama uti, katanya biar cepet besar hehehe... Maemnya udah bubur nasi kasar, tapi kadang susah nelen kalau ada buncis yang kurang halus marutnya. Di Bandung makin ceriwis dan gerak mulu gak bisa diem. Belajar jalannya udah bisa timik-timik sama tante Arin. Pas dimandiin di kamar mandi nangis gegara sempet kepleset, setelah itu mandinya di kamar terus, padaha kalau di rumah udah pinter mandi di kamar mandi sambil berdiri. Oia pas di Borma Sigi dibeliin baby closet buat belajar potty toilet training, tapi selama di Bandung gak mau pup pakai baby closet, pasti nangis. Cuma berhasil sekali dia pup disitu.

Pulangnya lancar banget, perjalanan cuma 2,5 jam ditambah setengah jam istirahat di rest area Sigi, ayah dan bunda makan siang bekel dari uti. Padahal berangkatnya kena macet arus mudik jadi di jalan 4,5 jam plus istirahat setengah jam. Puji Tuhan sampai rumah semua sehat dan happy.

The Hardest Time - Sigi Anemia


5 April 2014 saat Sigi berusia 6,5 bulan kami membawanya ke RS untuk imunisasi Hepatitis B yang ketiga. Tidak biasanya bu dokter berulang kali memeriksa matanya, telapak tangan dan kakinya, lalu dibandingkan dengan telapak tangan beliau. Selesai memeriksa Sigi, bu dokter menatap saya sambil mengatakan "Sigi agak pucat bu, bulan kemarin memang sudah terlihat agak pucat tapi saya agak samar karena dia kulitnya putih. Hari ini terlihat semakin pucat, apakah ibu ada riwayat anemia?". Saya jawab iya, bahkan saat hamil Hb saya hanya 9 sehingga harus diinfus ferritin. Lalu beliau menyarankan kami untuk melakukan tes darah pada Sigi karena suspect anemia defisiensi Fe. Saat itu kami tidak langsung melakukan tes darah karena tidak tega melihat Sigi menangis lagi (kan barusan disuntik imunisasi masak mau disuntik lagi, kasian amat). Kami rencanakan 2 atau 3 hari lagi baru cek darah.

Belum sempat cek darah, Sigi malah terserang batuk pilek, ketularan sama Awahita, anak di gereja yang waktu babtis duduk di sebelah Sigi. Dua hari batuknya malah jadi semakin parah dan sering muntah. Tiap malam rewel karena batuknya, dia jadi tidak bisa tidur. Akhirnya 10 April kami bawa lagi Sigi ke dr. Intan. Saya minta agar Sigi tidak usah diberi obat dan beliau setuju, cukup diberi balsam bayi dan usahakan makan dan menyusu yang banyak. Lagi-lagi dokter mengatakan Sigi sangat pucat dan menyarankan untuk cek darah segera setelah Sigi sehat. Beberapa hari kemudian batuknya berkurang, belum benar-benar sembuh, tapi saya perhatikan Sigi makin pucat dan lemas. Lalu saya sms dr. Intan melaporkan kondisi Sigi dan beliau meminta kami segera melakukan cek darah walaupun Sigi belum sembuh. Malam itu juga kami antar Sigi untuk cek darah, tapi hasilnya baru sempat ayahnya ambil dua hari kemudian. Kami sungguh terkejut, hemoglobin Sigi hanya 6,5 padahal normalnya 12-14 dan cadangan besi atau ferritin hanya 1,08 harusnya minimal 20 untuk bayi. Saya langsung sms dokter hasil labnya dan beliau meminta kami langsung ke RS untuk dilakukan transfusi darah pada Sigi. Hati saya sedih sekali membaca sms bu dokter, beliau bilang Hb serendah itu bisa berbahaya karena memacu jantungnya bekerja terlalu keras sebab darahnya tidak cukup mengangkut oksigen dan zat-zat gizi juga tidak mampu didistribusikan dengan baik ke seluruh tubuh makanya hal itu menyebabkan Sigi pucat dan lemas. Kalau lebih lama lagi dia bisa sesak nafas, dan itu sangat berbahaya. Siang itu sekitar jam 2 hari Minggu 18 April tepat saat Sigi berusia 7 bulan, kami segera bergegas ke UGD RS Mitra Keluarga Depok. Setelah diperiksa dan cek darah sekali lagi, dipastikan Sigi harus transfusi karena makanan dan suplemen saja tidak mencukupi untuk menaikkan Hbnya. Sayangnya kami kehabisan kamar untuk anak-anak. Rupanya hari itu banyak sekali anak-anak yang sakit.

Akhirnya kami ke RS Hermina, sebelumnya telah kami telpon di sana masih ada kamar kosong untuk anak-anak. Sampai di Hermina sudah jam 9 karena kelamaan di RSMKD menunggu hasil tes darah yang bermacam-macam jenisnya itu. Saya segera menemui resepsionis di Hermina memberikan surat pengantar dari dokter RSMKD dan menyampaikan maksud kami untuk melakukan transfusi malam itu juga. Permohonan kami tidak bisa dikabulkan karena RS tersebut tidak mempunyai bank darah sehingga harus menelpon PMI dulu dan melakukan serangkaian tes lagi. Artinya kami harus menunggu sampai besok atau lusa baru bisa melakukan transfusi. SAYA TIDAK MAU!!! Saya kekeuh Sigi harus ditransfusi malam itu juga. Akhirnya suami mencari RS di Depok yang mempunyai bank darah dan ada kamar kisong untuk anak-anak. Dapatlah kami RS Sentra Medika Cisalak. Kami memacu kendaraan kami agar seketika sampai di RS tersebut. Kami langsung menuju UGD dan meminta Sigi segera ditangani. Pukul 12 malam itu Sigi sudah bisa masuk kamar dan sudah dibuat infus untuk jalan darahnya. Semua proses lancar dan jam 2 dini hari Sigi menerima transfusi. Awalnya dokter merencanakan transfusi 2 x 75cc, setiap kalinya memakan waktu 24 jam termasuk proses pembilasan dan istirahat. Puji Tuhan semua berjalan lancar dan Sigi cukup menerima 1 x 75cc saja karena malam kedua di RS saat dicek Hb nya sudah 10,2 (respon tubuhnya baik) dan menurut dokter Sigi bisa pulang.

Saat kunjungan dokter terakhir sebelum pulang, hati saya bagai dihantam sebongkah besar es batu, sedih sekali. Dokter memberikan rujukan Sigi ke spesialis hematologi anak RSCM karena dikhawatirkan ada kelainan darah yang berbahaya seperti leukimia, alasannya karena tidak wajar bagi bayi seusia Sigi Hbnya bisa serendah itu. Saya tidak sanggup menahan tangis, dan air mata terus mengalir sampai di rumah. Pikiran saya tidak bisa ditahan untuk tidak memikirkan hal terburuk pada Sigi. Saya seperti seorang ibu yang mau kehilangan bayinya sehingga setiap hari saya banyak mengambil photo dan video Sigi, saya pikir biar banyak nanti kenangan dia.

24 April 2014 kami membawa Sigi kembali ke dr. Intan untuk konsultasi post transfusi sambil menceritakan tentang rujukan dari dokter di RS Sentra Medika. Menurut beliau kondisi Sigi sudah baik, tidak perlu mengkhawatirkan soal kelainan darah karena beliau sangat yakin Sigi anemianya karena kekurangan zat besi bukan hal yang lain. Kenapa sampai sedemikian rendah karena penyebabnya sudah kompleks, dari hamil saya sudah def Fe lalu Sigi lahir prematur dengan berat badan rendah sehingga tidak mampu menyimpan cadangan zat besi. Lalu saat menyusuipun saya kembali mengalami anemia sehingga otomatis kandungan besi dalam ASI saya juga sangat kurang. Penjelasan dokter Intan benar-benar melegakan. Fiuh, saya bisa menghela nafas panjang, ayem rasanya hati ini. Dokter Intan sih tetap mempersilakan kalau kami mau mengikuti rujukan dokter untuk membawa Sigi ke spesialis hematologi anak agar lebih plong dan jelas hasilnya. Kami masih mencari waktu yang pas sembari terus mengontrol Hb dan Ferritin Sigi tiap bulan. Puji Tuhan saat masuk usia 9 bulan Hb Sigi sudah normal 12, Ferritinnya 14 sehingga masih harus terus minum suplemen zat besi setiap hari.

Anemia ini berdampak buruk bagi perkembangan Sigi. Selama dua bulan dia anemia, berat badannya tidak mengalami kenaikan, daya tahan tubuhnya melemah sehingga mudah sakit, perkembangan motorik kasarnya juga sedikit terlambat dibanding bayi lain seusianya. Akibat daya tahan tubuh yang lemah, Sigi jadi mudah terserang penyakit. Setelah batuk pilek sembuh, beberapa waktu kemudian Sigi terkena campak jerman. Lalu sering banget diare dari usia tujuh bulan itu sampai usia 9 bulan. Setiap malam rewel, tadinya karena gatal akibat virus campak. Setelah sembuh masih terus rewel karena mules diarenya itu. Selama dua bulan lebih tiap malam selalu rewel sehingga kami menidurkannya di atas stroller sambil digoyang-goyang, karena kalau udah rewel gitu susah banget, digendong gak mau, ditaruh makin nangis, serba salah pokoknya. Cara paling ampuh ya tidur digoyang-goyang d atas stroller.

Ternyata banyak hal yang saya tidak tahu tentang perawatan bayi prematur dan berat badan rendah. Selain rentan terkena anemia defisiensi Fe, bayi tersebut kadang juga kekurangan enzim pencernaan (seperti yang dialami Sigi) sehingga mudah kembung dan diare. Ketetapan hati saya benar-benar diuji oleh Tuhan. Sempat ada waktu di mana saya benar-benar frustasi, sampai berpikir bahwa Sigi lebih sehat saat dirawat nenek kakeknya jadi lebih baik saya bekerja lagi. Ada waktu juga di mana saya benar-benar tidak mengerti maunya Tuhan, Dia seperti sedang membawa saya berputar-putar selama 40 tahun di padang gurun. Saya takut sekali menjadi seperti sebagian besar bangsa Israel yang suka bersungut-sungut. Murmuring, kalau tidak salah itu bahasa aslinya bersungut-sungut. Ucapan bibir yang sangat mengesalkan bila terdengar di telinga Tuhan, tidak tahu berterima kasih, hanya terus-terusan menuntut dan mengeluh. Sehingga Tuhan menolak dan membinasakan mereka.

Dari Sigi berusia 5 bulan sampai 9 bulan itulah masa terberat saya menjalani peranan baru sebagai istri dan ibu penuh waktu. Saya sangat sering gagal menunjukkan respon yang baik atas pergumulan yang Tuhan izinkan terjadi selama 4 bulan itu. Saya sering marah, mengeluh dan bersungut-sungut. Seringkali rasa khawatir yang berlebihan menutup mata saya untuk melihat kasih, kuasa dan pemeliharaan Tuhan yang luar biasa dalam hidup saya. Saya sedang dibentuk oleh Tuhan. Saya memang berulangkali gagal tapi Dia tak pernah gagal karena Dia Allah.

Mazmur 77 cukup mewakili perasaan saya di masa kelam itu. Saya seperti tidak mampu merasakan kehadiran Allah saat kesedihan dan kekuatiran melanda. Aku mau berseru-seru dengan nyaring kepada Allah, dengan nyaring kepada Allah supaya Dia mendengarkan aku. Pada hari kesusahanku aku mencari Tuhan; malam-malam tanganku terulur dan tidak menjadi lesu, jiwaku enggan dihiburkan. Apabila aku mengingat Allah, maka aku mengerang, apabila aku merenung, makin lemah lesulah semangatku. Engkau membuat mataku tetap terbuka; aku gelisah sehingga tidak dapat berkata-kata. Maka kataku: "inilah yang menikam hatiku, bahwa tangan kanan Yang Mahatinggi berubah." Ayat 2-11 itulah yang terjadi pada saya tiap kali Sigi sakit dan berbagai pergumulan datang. Lalu ayat 12-16 mengajak hati saya untuk mengingat kembali perbuatan Allah di masa lampau, berkat dan kebaikan-Nya yang telah saya nikmati. Saya bisa hamil lagi setelah keguguran, Sigi lahir sehat dengan anggota tubuh yang sempurna walaupun prematur, pemeliharaan Tuhan yang luar biasa melimpah sehingga kami dapat hidup cukup walaupun saya telah berhenti bekerja, dan masih sangat banyak pekerjaan dan kebaikan-Nya dalam hidup saya. Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan Tuhan, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaibanMu dari zaman purbakala. Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaanMu, dan merenungkan perbuatan-perbuatanMu. Ya Allah, jalanMu adalah kudus! Allah manakah yang begitu besar seperti Allah kami? Lalu ayat 17-20 membuat jiwa saya takjub sekaligus tenang karena menyaksikan kebesaran dan kemuliaan Tuhan. Air telah melihat Engkau ya Allah, air telah melihat Engkau lalu menjadi gentar, bahkan samudera raya gemetar. Awan-awan mencurahkan air, awan gemawan bergemuruh, bahkan anak-anak panahMu beterbangan. Deru gunturMu menggelinding, kilat-kilat menerangi dunia, bumi gemetar dan bergoncang. Melalui laut jalanMu dan lorongMu melalui muka air yang luas, tetapi jejakMu tidak kelihatan. Ditutup dengan ayat 21 pengakuan yang menentramkan jiwa. Engkau telah menuntun umatMu seperti kawanan domba dengan perantaraan Musa dan Harun. Ya, Engkaupun telah menuntun saya Bapa, dan akan terus setia menuntun saya melewati lembah terjal dan padang gurun, mengantarkan kami sekeluarga ke air yang tenang dan padang yang berumput hijau.