Kamis, 26 Oktober 2017

Kynan Senna Widyanto

Puji syukur kepada Tuhan Semesta Alam, pada tanggal 14 Juni 2017 anak kedua kami, Kynan Senna Widyanto, lahir ke dunia. Kalau kepada saya ditanyakan, "Hal apa yg disyukuri dari kelahiran anak kedua?", saya akan menjawab, "Saya bersyukur karena Tuhan mewujudkan apa yg menjadi doa dan keinginan kami."

Yg pertama, menjadi keinginan Angga untuk memiliki 2 anak pada usianya yg ke-30. Keinginan ini sejalan juga dengan saya yg menginginkan jarak usia antara anak pertama dengan kedua adalah 4 tahun.

Kenapa 4 tahun? Karena saya beranggapan 4 tahun adalah waktu yg cukup bagi kami untuk mencurahkan semua perhatian dan kasih sayang kami kepada anak pertama kami, Sigi. Tanpa terganggu keberadaan seorang adik, Sigi mendapatkan sepenuhnya "kehadiran" kami sebagai orang tuanya. Bukan sekedar kehadiran secara fisik, tetapi jauh lebih penting peranan orang tua dalam pembangunan karakter dan penanaman nilai-nilai iman dalam diri anak. Apabila saya sebagai orang tua lalai dalam menjalankan peran ini, pihak lain yg akan menggantikannya. Saya rasa, itu yg menjadi salah satu problem terbesar dalam keluarga di zaman ini dimana orang tua tidak sepenuhnya "hadir" bagi anak mereka. Akibatnya anak mencari perhatian dan kasih sayang kepada pihak lain yg tidak seharusnya, bisa jadi pihak itu baik namun tidak jarang juga buruk dan berbahaya. Saya meyakini bahwa orang tua tidak akan pernah bisa mengganti waktu kebersamaan yg hilang di masa kanak-kanak anak kita karena masa itu tidak akan pernah bisa kembali dan yg akan tersisa hanya penyesalan.                      

Selain itu, saya merasa seorang kakak yg sudah cukup mandiri dan dewasa utk berbagi kasih sayang, akan berpengaruh baik bagi sang adik. Salah satu permasalahan yg saya sering temui dari para orang tua yg memiliki jarak usia anak yg terlalu dekat adalah sang kakak merasa "tersaingi" oleh sang adik. Sang kakak tidak siap berbagi kasih sayang orang tuanya dengan adik kecilnya yg butuh perhatian sangat besar. Akan lebih diperparah apabila orang tuanya tidak menyadari kondisi ini dan seolah mengabaikan sang kakak karena merasa sang adik lebih perlu mendapat perhatian.

Kami sebisa mungkin menghindari hal tersebut terjadi dalam keluarga kami. Sejak awal kehamilan, Sigi kami persiapkan sedemikian rupa sehingga dia siap menerima kehadiran Senna. Sejak Senna masih dalam.kandungan, kami sudah meminta Sigi untuk selalu mendoakan adik dan bundanya. Setiap check up kehamilan, Sigi dan saya selalu melihat monitor USG dan memperhatikan pertumbuhan Senna setiap bulannya. Sejak Senna dalam perut, Sigi terbiasa mengajak ngobrol dan menggoda adiknya. Dan harus saya akui, saya kalah jauh dari Sigi dalam hal berkomunikasi dengan Senna saat Senna masih di perut.

Sigi lahir waktu usia kami 26 tahun. Jadi rasanya pas sekali kalau anak kedua lahir saat usia kami 30 tahun. Dan Tuhan rupanya setuju. Senna lahir di awal usia kami yg ke-30.

Yang kedua, Angga bisa melahirkan dengan normal tanpa operasi caesar. Keinginan Angga utk bisa melahirkan secara normal memang sangat kuat. Dan saya terkadang merasa bersalah karena seringkali pesimis dengan apa yg menjadi keinginannya. Pikiran saya sederhana saja, berdasarkan cerita pengalaman orang yg pernah operasi caesar, kelahiran berikutnya biasanya akan caesar lagi. Makanya saya tidak ingin Angga terlalu berharap dan nanti akhirnya harus kecewa. Tapi Angga tetap berusaha keras agar kehamilannya sehat dan akhirnya bisa bersalin normal. Dan rupanya Tuhan setuju Angga mengalami sakitnya persalinan normal. Hehe..

Yang ketiga, Tuhan memberikan kami kesempatan untuk ikut dalam asuransi yg men-cover biaya persalinan dan check up kandungan dengan premi yg murah. Kalau mengingat biaya persalinan Sigi yg membuat kami harus menguras tabungan, menjual barang, dan berhutang, asuransi ini menjadi jawaban doa dari Tuhan bagaimana kami akhirnya bisa membayar biaya persalinan Senna di tengah banyaknya pos pengeluaran yang harus kami tanggung, antara lain biaya kontrakan rumah dan sekolah Sigi. Memang benar, setiap anak akan punya berkatnya sendiri.

Yang keempat, saya menginginkan anak kedua berjenis kelamin perempuan jadi anak kami pas sepasang. Tuhan pun rupanya setuju. Sekarang sudah lengkap sepasang dan saya pikir sudah cukuplah dua saja. Angga pun berpikiran sama, walaupun mungkin alasannya karena kapok sakit bersalin. Hehe..

Kalau mau diceritakan kronologis proses persalinan Senna, Angga mulai merasakan kontraksi sejak hari Rabu tanggal 13 Juni 2017 sekitar pk 08.00. Jam 12 siang waktu saya masih di kantor, Angga telepon saya dan bilang kalau kontraksi sudah mulai sering dan sudah mulai keluar flek. Langsung saya ijin pulang dan kami semua buru-buru ke RS Hermina Kemayoran. Tiba di RS sekitar pk 15.30 dan langsung ditangani di ruang utk bersalin. Saya dan Sigi menunggu di luar. Karena Sigi tidak mungkin ikut menunggu kelahiran adiknya di rumah sakit, saya minta bala bantuan dari Papa dan Mama di Bandung. Dan saat itu juga mereka berangkat dari Bandung menuju Kelapa Gading. Angga meminta saya dan Sigi pulang dan menunggu kedatangan Papa Mama di rumah. Lalu saya dan Sigi pulang. Saya beres2 rumah, mempersiapkan barang2 utk dibawa ke RS dan menyiapkan makan malam utk kami. Papa Mama akhirnya sampai di Kelapa Gading sekitar pk 22.00. Sigi sudah tidur waktu itu dan sebelumnya saya sampaikan kalau nanti waktu Sigi bangun, Ayah dan Bunda sedang ada di Rumah Sakit dan Sigi nanti ditemenin sama Kakung Uti. Dia mengangguk setuju dan tidur dengan pulas.

Kemudian saya langsung menuju RS dan mendapati Angga masih bukaan 1. Saat itu sekitar pk 23.00. Perut Angga dipasangi alat pendeteksi detak jantung bayi. Angga terus mengalami kontraksi dan pada saat kontraksi itulah Angga merasakan sakit yg luar biasa. Tak terhitung berapa kali Angga berteriak kesakitan dan meneriakan "Tolong Tuhan Yesus" sepanjang malam itu. Padahal saya tahu bahwa Angga jauh lebih tahan dalam menghadapi rasa sakit daripada saya. Dalam hati saya khawatir dan terus berdoa jangan sampai terjadi apa2 dengan istri dan anak saya. Pikiran saya sudah mikir2 yg aneh2 aja. Sampai akhirnya pk 04.00 bukaan mulai bertambah. Dan ternyata bukaan berjalan begitu cepat. Ketika bukaan sudah cukup, dokter merobek ketuban dan meminta Angga untuk mengejan. Angga sudah berusaha ngeden dengan kuat tapi Senna belum keluar juga. Di saat itu, dokter sudah menyiapkan vacum andaikan Angga gak kuat ngeden dan bayi tidak bisa keluar lewat ngeden alami. Tapi bersyukur akhirnya kepala Senna keluar dan tidak berapa lama kemudian seluruh tubuhnya keluar sempurna. Senna kemudian langsung ditangani oleh dokter anak, tubuhnya dibersihkan dan diberikan imunisasi hepatitis. Dan Puji Tuhan, akhirnya pk 04.50, Senna lahir dengan selamat. Ini kali pertama saya melihat proses persalinan normal dari awal sampai akhir karena Sigi dulu lahir lewat operasi caesar. Setelah disuntik vaksin Hepatitis dan IMD sebentar, Senna kemudian dibersihkan dan Angga dipindahkan ke kamar rawat. Puji Tuhan Senna dan Angga dalam kondisi sehat. Senna langsung bisa menyusu dengan baik.

Mengapa kami memberikan nama Kynan Senna Widyanto kepada anak kedua kami? Tentunya tersemat doa dan harapan dalam nama tersebut.

Seperti halnya kami sematkan Krisna pada nama Sigi, Kynan merupakan gabungan dari kedua nama kami, Kristyanu dan Angga. Mengapa kami selalu menamai anak kami dengan gabungan nama kami? Karena mereka adalah buah cinta kami. Keberadaan mereka adalah karena Tuhan yang membuat kami berdua menjadi satu. Dan harapan kami adalah mereka selalu mengingat bahwa kami berdua sangat mengasihi mereka. Walau kami tidak bisa selamanya bersama mereka, biarlah setidaknya nama kami senantiasa melekat pada nama mereka. Jadi anakku, ingatlah bahwa Ayah dan Bunda sangat mencintaimu.

Senna, artinya adalah kilauan cahaya. Tentunya kami berharap Senna menjadi cahaya yang berkilau bagi kemuliaan nama Tuhan. Kami rindu Tuhan memakai Senna untuk menjadi berkat bagi bangsa dan dunia. Biarlah Tuhan yang memampukan kami menjadi orang tua yang sanggup mendidik dan membesarkan Senna agar cahayanya tidak redup namun berkilau terang dan menerangi dunia yang gelap.

Widyanto, tentu saja adalah nama belakang saya. Sebagai seorang Ayah, menjadi kebanggaan ketika tersemat nama belakangnya pada setiap nama anaknya. Dan menjadi tugas berat seorang ayah agar anaknya pun bangga ada nama Ayah pada namanya. Kiranya Tuhan yang menolong Ayah agar anak-anak bangga menyandang nama Ayah.

Kynan Senna Widyanto, anakku, jangan pernah lupakan perjuangan Bunda untukmu ya. Ayah menjadi saksi bahwa Bunda menjalani hal yang tidak mudah untuk melahirkanmu di dunia. Kasihilah Bunda sebagaimana Bunda mengasihimu dan taatilah senantiasa perintah Bunda karena apapun yang Bunda katakan, pastilah itu untuk kebaikanmu. Ayah pun tidak akan pernah bisa memberikan kasih yang lebih besar daripada yang telah diberikan oleh Bunda untukmu.

Kami sadar bahwa kami penuh kekurangan dan keterbatasan. Kami hanyalah orang tua yg tidak sempurna namun Tuhan dengan caraNya yang sempurna telah memberikan kepercayaan kepada kami untuk mendidik anak-anakNya. Ayah dan Bunda hanyalah orang tuamu di dunia ini, tapi yang sesungguhnya memiliki keseluruhan hidupmu adalah Bapa di Sorga.

Ayah dan Bunda tidak tahu akan seperti apa hidupmu kelak. Sesulit apapun hidupmu kelak, ingatlah bahwa kamu memiliki Bapa di Sorga, Sang Penguasa Alam Semesta. Jangan pernah sekali-kali tinggalkan imanmu kepada Tuhan karena akan sia-sia saja doa dan harapan yang kami sematkan dalam namamu. Tiada lagi Senna, tak ada lagi kilauan cahaya, hanya ada kegelapan ketika kau tinggalkan Tuhan. Tak ada lagi artinya hidupmu di dunia ini anakku ketika kau hidup tanpa Tuhan.

Ingatlah Senna, Tuhan pasti punya rencana atas hidupmu. Tuhan sudah merancang hidupmu untuk mengerjakan sesuatu yg baik menurutNya. Terus gumulkan panggilan Tuhan untukmu dan teruslah setia mengerjakannya. Ingatlah, hanya sementara kita hidup di dunia. Oleh karena itu, hendaknya pikiranmu selalu tertuju pada apa yang kekal dan abadi.

Kecup dan peluk sayang selalu dari Ayah dan Bunda..

Selasa, 17 Oktober 2017

Bukan Kacamata Kuda

Pagi ini saya ke puskesmas untuk imunisasi Senna. Setelah sampai rumah, seperti biasa saya buka buku kesehatan Sigi dan Senna lalu saya bandingkan. Ternyata di usia 4 bulan, berat badan mereka berdua sama persis 6,3kg walaupun berat lahir Sigi jauh lebih kecil. Dari dulu saya selalu melihat Sigi itu bayi yang kecil, sedangkan Senna terlihat lebih besar di mata saya.
Empat tahun yang lalu, saya seringkali mengukur seberapa gemuk Sigi dengan cara melingkarkan jari2 saya pada betisnya, dan selalu saja saya merasa dia itu kurus. Padahal setiap kali saya cek di grafik berat badan anak menurut WHO, dia selalu berada di rentang normal, alias garis hijau. Dia berhasil mengejar ketinggalan berat badan walaupun dilahirkan dg ukuran sangat kecil. Selama 4 bulan BB nya naik 4,4kg dari 1,9kg menjadi 6,3kg, setiap bulan naik sekilo lebih. Tapi masih saja saya kurang bersyukur.
Sekarang ini saya baru sadar mengapa Sigi terlihat selalu kurus di mata saya. Karena dia lahir sangat kecil. Itu mindset atau kacamata yang selalu saya pakai dalam memandang Sigi. Sigi = kecil
Satu hal lagi yang makin menebalkan kacamata saya adalah hobi saya membanding-bandingkan Sigi dengan anak-anak lain. Hal-hal inilah yang seringkali membutakan mata saya untuk melihat setiap detil kebaikan Tuhan dalam diri Sigi. Dengan kondisi lahir prematur dan sangat kecil, Sigi sehat tanpa perlu inkubator ataupun perawatan khusus di NICU. Walaupun beberapa kali sakit, Sigi terus berjuang untuk sehat kembali, dan terus bertumbuh semakin kuat sampai hari ini. Perkembangan kemampuan dasar seperti motorik kasar dan halus, kemandirian, komunikasi dan sosialisasi semua berkembang normal sesuai usianya. Tidak ada yg delay... Semua itu adalah bukti pemeliharaan Tuhan bagi Sigi.
Kesalahan saya dalam membanding-bandingkan ini bukan hanya berhenti sampai hal lahiriah atau fisik saja, bahkan sekarang ini saya sedang getol-getolnya membandingkan karakter Sigi dengan anak-anak lain, yang tentu saja ujungnya selalu pada perasaan kurang bersyukur atau malah perasaan sombong dan membanggakan anak (atau diri sendiri sebagai orang tuanya) secara berlebihan. Misalnya saya dan mamanya si C ngobrol soal anak kami, lalu dia cerita kalau si C makin mandiri sejak punya adik, berangkat SK sendiri tidak menangis, banyak membantu pekerjaan di rumah dan bahkan bisa menjaga adiknya dengan baik. Setelah percakapan itu, begitu bertemu Sigi saya langsung menjadi sangat "demanding", menuntut dia secara berlebihan, mengharuskan dia untuk lebih mandiri, lebih taat, dan lebih lebih yang lain, yang menurut saya seharusnya dia bisa lakukan karena anak lainpun bisa. Pastilah sikap berlebihan saya ini terasa sangat menyebalkan bagi Sigi. Bundanya tiba-tiba jadi terlalu banyak menuntut dan kurang mensyukuri keberadaan dirinya apa adanya. Gagal melihat setiap progress dan hal-hal baik yang telah dia lakukan.
Hari ini Tuhan tegor saya bahwa setiap orang itu unik, diciptakan Tuhan dengan begitu mulia dan berharga di mataNya. Saya harus meminta hikmat dan kerendahan hati dari Tuhan agar mampu memandang dwngan kacamata Allah. Melihat setiap anak sebagai pribadi yang unik, tidak bisa dibanding-bandingkan satu sama lain, semuanya berharga di mata Allah. Dan mereka semua sedang BERTUMBUH, BERPROSES, BELAJAR.  Artinya saya harus siap menerima adanya kesalahan, ketidaksempurnaan dan kegagalan mereka. Namanya juga belajar, pasti ada saja kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan, trial and error. Kita harus berguru kepada Bapa Sorgawi yang sangat murah hati dalam memberikan pengampunan dan kesempatan kedua, ketiga, keempat dan seterusnya sampai anak-anak menjadi dewasa, bukan hanya usianya, tetapi juga dewasa iman dan pemikirannya.

"Untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda." (Amsal 1:4)

Kiranya hikmat Tuhan terus memberikan kecerdasan untuk Sigi bertumbuh semakin dewasa di dalam Tuhan, dan hikmat Tuhan juga yang menolong saya untuk menuntun Sigi berjalan di jalan Tuhan.

Sabtu, 09 September 2017

Aku siap pulang

Seperti saya yang sangat senang melihat anak-anak tertidur pulas siang ini, ternyata Tuhanpun senang melihat saya puas tidur nyenyak. Ternyata tidak melulu hal-hal rohani yang dapat membuat Tuhan senang, perkara-perkara kecil yang kita kerjakan dengan ketulusan dan senang hatipun dapat membuat Tuhan tersenyum kepada kita.
Melihat anak-anak terlelap di siang bolong begini, tiba-tiba hati saya berbisik, "mimpi apa saya bisa berada di tempat ini di waktu ini melihat wajah-wajah mungil terlelap. Sungguh anugerah Tuhan semata."
Sepertinya dahulu waktu muda, jalan hidup yang saya rancang tidaklah seperti ini. Saya pribadi yang cukup ambisius dan selalu bermimpi menjadi wanita karir yang sukses dan mengejar study lanjut S2 dan S3 ke Luar Negeri. Tetapi ternyata saya sekarang berada pada momen yang jauh lebih indah dari semua mimpi itu.

2 minggu yang lalu ketika anak-anak sakit, Tuhan benar-benar membentuk kembali hati saya. Tuhan pimpin saya untuk kembali bersaat teduh menggunakan buku the purpose driven life, dan Tuhan teguhkan sehari demi sehari bahwa saya bukan hidup untuk saat ini di dunia ini saja, tetapi Tuhan menciptakan saya untuk tujuan kekal. Saya harus memiliki perspektif kekekalan.

Selama ini saya begitu siap, yakin, berani dan mantap bila Tuhan panggil saya pulang saat ini juga, saya pasti senang sekali. Saya bisa segera bertemu dengan Juru Selamat saya. Tetapi saya sering bilang sama Tuhan, kalau saya tidak tahu bagaimana harus hidup bila Tuhan panggil lebih dulu suami dan anak-anak saya, orang-orang yang paling saya cintai.
Tuhan ingatkan, bahwa bila Tuhan panggil mereka lebih dulupun seharusnya saya tidak kehilangan sukacita karena merekapun pulang untuk bertemu Bapa Sorgawi. Meskipun ada rasa sedih karena rindu dan kehilangan, seharusnya tidak membuat saya lupa bahwa kepergian merekapun adalah hal yg baik bagi mereka.

Pemahaman ini juga membuat saya mengubah cara pandang tentang hidup kami. Selama ini saya selalu merasa bahwa jalan hidup anak-anak masih sangat panjang, mereka harus sehat, harus pintar agar menjadi orang yang berguna saat dewasa kelak. Karena itu saya sangat down dan terpukul ketika Sigi sakit tipes dan DBD sekaligus. Membaca artikel disana sini bahwa kalau nanti kena DBD untuk ke2 kalinya akan bisa sangat parah, begitu juga dengan tipes yang pemulihannya cukup lama dan bisa kambuh-kambuh. Rasanya sulit sekali bisa menerima hal ini. Dan kepikiran, bagaimana kalau Sigi sakit-sakit lagi, bagaimana kalau tidak bisa bertahan hidup, dan ketakutan-ketakutan yang macam-macam.
Tuhan tegor saya bahwa pandangan bahwa anak-anak pasti akan hidup lebih lama dari saya itu keliru. Siapa yg tahu umur manusia? Nafas kita, Tuhan pemiliknya, Dia bisa ambil kapanpun Dia mau. Siap atau tidak siap kita, tidak akan mempengaruhi kedaulatan-Nya.

Akhirnya hal ini memaksa saya untuk semakin rajin, siap sedia menyingsingkan lengan baju untuk semakin tekun memenuhi telinga, hati dan pikiran saya dan anak-anak tentang Kristus Sang Juru Selamat. Tidak bisa dipungkiri bahwa anak-anakpun adalah manusia berdosa, terlahir dalam tubuh dosa, mewarisi dosa dan hidup dalam dunia yg telah jatuh dalam dosa. Mereka sangat membutuhkan Juru Selamat untuk mengampuni dan menyelamatkan mereka.
Saya tidak tahu kapan waktunya Tuhan akan panggil Sigi dan Senna untuk pulang ke rumahNya. Karena itu, menjadi sesuatu yg sangat penting dan mendesak bagi saya untuk terus menerus menanamkan benih firman Tuhan, mendoakan serta berusaha memastikan hati mereka merespon dan menerima Yesus, percaya Yesus adalah Tuhan dalam hidup mereka dan akhirnya bisa menikmati hubungan pribadi bersama Yesus.

Waktu yang kita punya, mungkin tidak sebanyak yang kita kira. Jadi semakin giatlah membawa anak-anak kepada Tuhan.

Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikian pun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.
Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.
Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.
Filipi 1:20-22

Sabtu, 30 April 2016

Catatan ayah Sigi

Hari jumat tgl 15 April, kami berkesempatan mengikuti trial class Sekolah Eureka. Kami berencana mengikutsertakan Sigi di kelas preschool. Kami melihat sistem pendidikannya sangat baik. Lebih menekankan pembentukan karakter dan penanaman prinsip Firman Tuhan dalam diri anak. Suasana belajar dikemas dengan begitu apik sehingga anak tidak merasa bosan dan merasa sedang bermain. Selain itu, di dalam kelas anak diajarkan dengan bilingual, bahasa inggris dan indonesia. Guru-gurunya kompeten dan yang terpenting setiap anak ditanamkan prinsip Firman Tuhan dengan kuat dan sejalan dengan pembinaan Sahabat Kristus yang kami ikuti. Orang tua tidak berarti lepas tangan. Justru orang tua diwajibkan (atau mungkin bisa dibilang dipaksa) untuk turut berperan dalam pendidikan anak di rumah. Puji Tuhan, Sigi sangat menikmati kelas tersebut dan sangat excited. Kami berdua yg sempat menemani di dalam kelas juga semakin dibukakan bahwa ini hal yg sangat baik buat Sigi dalam tumbuh kembangnya dan sangat baik bagi kami sebagai orang tua. Apalagi ketika kami melihat karakter anak-anak yg sudah mengikuti kelas toddler, Tuhan menaruh kerinduan yg semakin dalam untuk menyekolahkan Sigi disana..

Secara logika manusia, banyak hal yg menghambat. Tempat tinggal, biaya hidup, proses adaptasi, kondisi ekonomi dan banyak hal lainnya. Tapi memang logika seringkali tidak sejalan dengan iman. Bersyukur Tuhan jauh melebihi logika manusia paling berhikmat sekalipun. Di masa pergumulan ini kami mengingat kembali pergumulan kami sedari awal kami memiliki anak. Saat angga memutuskan untuk resign dan menjadi fulltime mother, kami tidak tahu apakah bisa hidup dengan gajiku sebagai pegawai biasa. Nyatanya soal materi Tuhan selalu cukupkan bahkan kami bisa sedikit berbagi kepada orang lain. Walau saat Sigi lahir kami harus berhutang dan bingung bagaimana mencukupi kebutuhan bayi kecil kami, nyatanya Tuhan memberikan segala sesuatu yg Sigi butuhkan sampai kami terheran-heran atas pemberian Tuhan yg sangat limpah. Kami hampir tidak mengeluarkan uang sedikit pun utk membeli kebutuhan Sigi waktu bayi. Saat kami mendapati bahwa kelahiran Sigi yg prematur membuat Sigi seringkali sakit dan beberapa kali sampai dirawat di rumah sakit, Tuhan nyatanya cukupkan biaya rumah sakit dengan asuransi kantor dan kami bisa melihat Sigi tumbuh sehat dan pintar hingga saat ini. Saat kami bergumul bagaimana caranya kami yang tinggal di depok agar bisa mengikuti Sahabat Kristus di Kelapa Gading yg berjarak 35 km, Tuhan nyatanya menganugerahkan pinjaman mobil yang bisa kami pakai hingga saat ini. Saat kami tidak punya uang, nyatanya Tuhan memberikan kesempatan kepadaku utk bisnis kecil-kecilan jual beli motor. Ketika kami....  ah sepertinya tidak akan pernah selesai menceritakan kebaikan Tuhan bagi kami. Tentunya masih sangat banyak pengalaman iman yg kami nikmati bersama Tuhan dalam perjalanan hidup keluarga kami..

Bersyukur Tuhan memberikan konfirmasi melalui Firman dalam Saat Teduh saat kami mempertimbangkan hal ini. Mengenai kekhawatiran, Tuhan berbicara melalui Lukas 12:22-34. "Jadi, janganlah kamu mempersoalkan apa yang akan kamu makan atau apa yang akan kamu minum dan janganlah cemas hatimu. Semua itu dicari bangsa-bangsa di dunia yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu tahu, bahwa kamu memang memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu". Perikop ini berbicara keras kepada saya. Seharusnya fokus kami adalah apakah pilihan kami telah sejalan dengan pilihan Allah. Kalau hanya sekadar makan minum dan materi dunia, Tuhan yang akan mencukupkan karena Dia yg empunya segalanya. Justru kami harus khawatir ketika kami tidak mau mengikuti jalan Tuhan dan menggunakan pertimbangan logika kami saja..

Kemudian saat teduh 3 hari berikutnya dari 2 Tawarikh 20:1-13. Allah kita memang tidak dapat diduga, tetapi selalu dapat diandalkan. Bagaimana tidak, ketika Raja Yosafat hendak diserang oleh pasukan besar bani Amon dan sekutunya, Tuhan membuat lawan Yosafat saling memerangi antar mereka sendiri. Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena Yosafat telah mengambil keputusan yang tepat. Yosafat berpaling kepada Allah. Ia mengakui kedaulatan Allah serta memuji Tuhan atas kasih setia Tuhan. Yosafat tidak fokus pada persoalan, tapi berpaling kepada Allah dan mengingat kasih setianya. Betapa indah ketika mendapati Allah melakukan hal yg tak terduga ketika manusia mengandalkanNya. Kami pun diingatkan bahwa setiap persoalan seharusnya membawa kami semakin dekat kepada Allah. Dan kami melihat melalui pergumulan ini, kami semakin menikmati hubungan pribadi dengan Tuhan. Tuhan yang kami andalkan akan melakukan hal yang tidak terduga bagi kami ketika kami percaya penuh kepadaNya..

2 hari berikutnya, Tuhan kembali berbicara kepada kami melalui Bilangan 7:1-9. Angga sangat diteguhkan melalui perikop ini. Allah mempunyai rencana yang berbeda-beda untuk kita masing-masing. Semua imam yang lain menggunakan pedati untuk membawa bagian bagian Kemah Suci di padang gurun. Namun bani Kehat harus berjalan susah payah melalui jalan bebatuan dan pasir yang panas membara, dengan memikul ‘barang-barang suci yang menjadi tanggung jawab mereka’. Kita mungkin merasa bahwa orang lain mendapat tugas yang lebih mudah atau peran yang lebih mentereng. Saya sangat sadar betapa Angga mengalami pergumulan hebat ketika dirinya memutuskan untuk melepaskan pekerjaannya demi menjadi full time mother. Angga sangat smart, luwes, mudah bergaul dan mempunyai begitu banyak alasan lain untuk sukses meniti karir. Dia lepaskan karirnya demi anak titipan Tuhan yang sangat Dia kasihi. Keputusan yang sangat jauh dari kata mentereng dewasa ini. Bahkan banyak yg menganggap Angga mengambil keputusan bodoh dan hanya mencari susah sendiri. Tapi puji syukur kepada Tuhan sang Empunya Hidup, Angga memilih taat kepada panggilan Tuhan. Angga sudah mengambil jalan terbaik, bagi dirinya dan bagi keluarga kami. Jika Bapa kita yang penuh kasih telah menetapkan kita untuk melakukan tugas tertentu, pantaskah kita mengatakan, “Aku tak dapat melakukannya, Tuhan”?
Begitu pun dengan pergumulan kami untuk pindah ke Kelapa Gading. Tentu ini bukan hal yg umum dilakukan oleh kebanyakan orang. Tidak aneh ketika banyak yang bertanya, "Memang di depok gak ada sekolah bagus? Apa bagusnya sih sekolah itu? Ngapain "buang" uang segitu banyak "hanya" untuk sekolahin anak? Udah enak tinggal di depok, eh malah ditinggal kontrak rumah di daerah banjir!" Dan banyak lagi pertanyaan semacam itu. Kami biasanya hanya jelaskan sebisanya karena kami tahu tidak semua orang bisa mengerti betapa pentingnya langkah yg kami ambil. Seperti ketika Abram dipanggil keluar dari hidup nyaman dan makmur di tanah leluhurnya, meninggalkan zona nyamannya dan melakukan apa yang tidak lazim menurut ukuran manusia. Ah, Tuhan Yesus juga mau turun dari sorga ke dunia dan taat sampai mati demi mengikuti kehendak BapaNya. Bersyukur kami memiliki teladan sempurna dalam diri Yesus...

Hal lain yg menjadi konfirmasi bagi kami adalah tempat kerjaku. Kalau dilihat lagi ke belakang, Tuhan seperti menunjukan bahwa bukan kebetulan aku ditempatkan di kantor daerah Ancol yg dekat dgn kelapa gading. Tidak terbayang kalau Tuhan dahulu tempatkan aku di kantor yg jauh dari kelapa gading. Sepertinya mustahil bisa ikut Sahabat Kristus dan Eureka. Jadi jauh sebelum kami menikah, Tuhan sudah mempersiapkan jalan bagi kami untuk ikut pembinaan Sahabat Kristus, menyekolahkan Sigi di Eureka, dan kami bisa terus tinggal satu atap. Bahkan sampai sekarang kami masih terheran-heran, kok bisa-bisanya kami masuk ke komunitas Sahabat Kristus padahal tidak ada teman ataupun keluarga kami yang ada di dalamnya..

Selain itu, Tuhan juga ingatkan bahwa kesempatan ini tidak akan datang setiap waktu. Kami tidak tahu sampai kapan Allah tempatkan kami di Jakarta. Umur Sigi akan semakin bertambah dan Golden Age-nya tidak terasa akan cepat sekali terlewat. Kalau ini terlewat, penyesalan kami tidak akan ada gunanya karena mulai dari sekaranglah waktu terbaik menanamkan prinsip Firman Tuhan dalam hidupnya..

Saat keluarga kami kembali diperhadapkan di persimpangan antara Logika dan Iman, Tuhan seperti kembali menantang iman kami. Setelah selama ini Tuhan menunjukan pemeliharaanNya, apakah kami masih ragu untuk percaya sepenuhnya kepada Tuhan Empunya Alam Semesta? Selangkah demi selangkah kami akan ikut jalan Tuhan. Tuhan memang tidak menunjukan ujung jalan keluarga kami akan seperti apa, tapi ketika Tuhan ada di samping kami saat kami melangkah di jalanNya, itu sudah lebih dari cukup bagi kami..

Oiya, ada lagu yg Tuhan berikan untuk meneguhkan kami dalam masa pergumulan saat ini.
KJ 438. Apapun Juga Menimpamu

 1: Apapun juga menimpamu, Tuhan menjagamu.
    Naungan kasihNya pelindungmu, Tuhan menjagamu.
Ref.
    Tuhan menjagamu waktu tenang atau tegang,
    Ia menjagamu, Tuhan menjagamu.

 2: Bila menanggung beban berat, Tuhan menjagamu.
    Masa depanmu kelam pekat? Tuhan menjagamu.
 3: DipeliharaNya hidupmu; Tuhan menjagamu
    dan didengarkanNya doamu; Tuhan menjagamu.
 4: Cobaan apa mengganggumu? Tuhan menjagamu.
    Buatlah Yesus sandaranmu; Dia menjagamu.

Kiranya Tuhan senantiasa menganugerahkan kekuatan bagi kami untuk terus setia mengikuti JalanNya..

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan untuk selama-lamanya" - Roma 11:36

Jumat, 29 April 2016

Pengejaranku

Sekali ini lagi sebagian orang mempertanyakan kewarasan kami, saat lagi-lagi mengambil sebuah keputusan besar yang terlihat bodoh dan tidak masuk akal. Kami akan meninggalkan rumah kami, dan tinggal di kontrakan yang luasnya kurang dari setengah rumah kami. Bagi kami, inilah pengejaran kami akan harta itu. Harta yang akan menjadi warisan abadi bagi anak, cucu, dan cicit kami. Sekalipun ini bukanlah harta yang bisa dikejar dan diraih sendiri oleh manusia, tetapi hanya oleh kasih karunialah orang bisa memperolehnya.

Yang saya maksudkan, bukan sekedar memberikan pendidikan terbaik bagi anak (-anak) kami. Sebagian orang mempertanyakan apakah tidak ada sekolah yang bagus di Depok. Tetapi lebih dari itu, mencicip kenikmatan sorgawi di dunia saat ini, sambil sekaligus membagikan warisan abadi bagi generasi penerus kami.

Bayangkan, anda sedang berada di lembah yang begitu kelam pekat, dan tidak tahu cara keluar dari sana, hanya dapat menangis dan meratap. Lalu datanglah pertolongan, sebuah tangan yang memberikan tuntunan, memimpin setapak demi setapak langkah anda hingga akhirnya anda dapat keluar dari tempat yang menakutkan itu. Apakah anda akan melepaskan tangan yang telah menggandeng anda segera setelah keluar dari lembah kelam itu? Saya tidak akan pernah melepaskannya. Saya memilih untuk tetap menggandeng tangan itu sambil merayakan sukacita atas kemenangan keluar dari lembah kelam. Dan akan terus memegang erat tangan itu melewati naik turunnya lembah dan bukit di tahun-tahun ke depan.

Yang saya maksudkan di atas ialah pernikahan kami yang pernah mengalami masa kelam pekat, sedemikian buruknya hingga kami masing-masing ingin mengakhirinya, di tahun pertama pernikahan kami. Karena itu jugalah saya bisa menyebutkan "mencicip kenikmatan sorgawi" dalam pernikahan kami. Seseorang yang pernah mengalami lembah kelam dalam pernikahannya, saya kira akan dapat memahami kalau saya katakan pernikahan bahagia itu laksana mencicip kenikmatan sorgawi, sangat memuaskan.
Pertolongan itu datangnya dari Tuhan, melalui sebuah instrumen Pelayanan Bina Iman Keluarga Sahabat Kristus. Kalau kepindahan kami ini hanya untuk mendapatkan sekolah yang bagus buat Sigi, di Depok juga ada. Tapi yang sedang kami kejar sekarang adalah sekolah yang bagus buat KAMI.. Sekolah yang mengajarkan bagaimana menjadi suami, istri, ayah, ibu, dan anak yang seperti Tuhan mau. Blue print-nya memang sudah ada di alkitab, tapi kami kesulitan kalau harus mempelajarinya sendiri. Kami butuh teman seperjuangan untuk berbagi, dan mentor untuk diteladani. Ya, kami butuh komunitas. Kami telah menemukannya (mungkin lebih tepatnya kamilah yang telah ditangkap) di BIK SK. Ya, memang kamilah yang telah ditangkap, karena "kebetulan demi kebetulan" telah dirancang Tuhan untuk menceburkan kami ke komunitas ini. Tidak ada teman alumni kampus, atau teman dari daerah asal, atau teman gereja yang membawa kami ke tempat ini. "Kebetulan-kebetulan" ini kami sebut sebagai kasih karunia.

Seseorang yang mengetahui ada harta sangat berharga di suatu tempat, pastilah akan rela mengejarnya begitu rupa, meskipun itu berarti harus melepaskan atau merelakan harga yang tidak kecil. Bagi kami, inilah harta itu, harta yang layak dikejar dan diperjuangkan, yaitu pertolongan agar terus dapat menikmati pernikahan yang kaya, memuaskan dan indah di dalam Tuhan. Harta itu adalah Tuhan sendiri. Harta ini jugalah yang ingin kami wariskan kepada anak, cucu dan cicit kami.

Ya, akhirnya kami harus mengucapkan selamat tinggal kepada kota Depok, terima kasih telah berbagi kebaikan selama 5 tahun kebersamaan kita. Dan selamat datang Kelapa Gading, be good to me yah. Kami orang asing yang hanya sementara di sana, mendirikan tenda (mengontrak) sampai waktunya tiba Tuhan yang membongkar tenda kami. Dan seperti Abraham, entah kemana lagi Dia akan mengutus kami meninggalkan segala kenyamanan kami.
Kami siap menjalani petualangan seru di tempat baru bersama Tuhan. Kami mengimani bahwa Tuhan yang sama yang telah memimpin kami sejauh ini melalui "up&down" kehidupan kami akan tetap dan terus setia memimpin kami melewati "up&down" lainnya di depan.

Sabtu, 21 Maret 2015

Booster Pediacel

Sigi sudah 18 bulan, jadi harus imunisasi ulangan (booster) untuk polio, DPT dan HIB. Sebenarnya saya sudah lupa dengan jadwal imunisasi ini, udah lama tidak saya cek. Untungnya saat ke Posyandu diingatkan dan ditawari untuk imunisasi disana. Saya pernah membaca kalau booster harus sama merknya dengan imunisasi terdahulu agar kompatibel atau efektif. Setau saya kalau di posyandu tidak memakai pediacel (sepaket/kombo) tapi terpisah tiap jenis vaksinnya, yang berarti merknya pasti berbeda dangan vaksin Sigi sebelumnya. Jadi saya putuskan untuk imunisasi di RS MKD saja, tempat Sigi biasa imunisasi.

Hari Selasa malam kami bertemu dengan dr. Intan untuk imunisasi sekalian konsultasi. Ternyata Bu dokter cantik ini masih ingat sama Sigi. Saat ditanya sudah bisa bicara apa, kami sebutkan beberapa kata yang biasa Sigi ucapkan, seperti mana, dah (sudah), kuda, mam (makan), num (minum), njem (pinjem). Bu dokter mengernyitkan dahi keheranan Sigi bisa bisa "pinjem" (yang menurutnya cukup sulit) tapi malah tidak bisa mengucapkan kata yang lebih mudah, seperti "nenen". Lalu kami jelaskan bahwa untuk meminta ASI Sigi terbiasa memakai sign language, dulu awalnya kami mengajarkan sign language agar Sigi tidak merengek-rengek kalau meminta sesuatu tetapi bisa menjelaskan apa yang dia butuhkan atau inginkan. Tapi jadinya keterusan sampai sekarang, dia tidak mau berusaha untuk mengucapkan kata-kata kalau minta ASI. Kami dinasehati bu dokter agar lebih banyak memberikan stimulus pada Sigi karena usia 18-24 bulan daya serap bahasa anak sedang tumbuh pesat, sehingga diharapkan usia 2 tahun Sigi sudah bisa mengucapkan 100 kata. WoW banyak juga ya…

Selasa, 24 Februari 2015

Parable of the sower

Bulan Januari Sigi belajar perumpamaan tentang penabur di kelas sahabat Kristus. Proyek kelasnya membuat tanaman dari kacang hijau di gelas plastik. Tapi hanya bertahan sampai seminggu.
Lalu saya ajari dia untuk menanam pohon cabai di pot. Dia suka sekali. Setiap hari kami bersama menjemur dan menyiram tanaman kami. Sengaja saya buat awalnya dari buah cabai saya keringkan lalu bijinya ditabur di tanah subur (agar mirip dengan perumpamaan sang penabur). Setelah dua minggu lebih, biji cabainya baru mulai berkecambah. Kami juga belajar sabar nih menunggu pertumbuhan si pohon cabai. Semoga nanti kami bisa melihat dan menikmati buahnya, biar bisa jadi bahan belajar buat Sigi, bahwa benih cabai yang dulu dia tanam di tanah yang subur akhirnya berbuah lebat.


Barusan lihat di youtube ternyata ada juga animasi yang lumayan bagus buat Sigi tentang penabur ini.


Semoga semua pelajaran ini membekas di hati dan ingatan Sigi. Kalau mau bertumbuh dalam Tuhan dan berbuah lebat, Sigi harus memiliki hati yang lembut, seperti tanah yang baik dan subur. Sehingga Firman Tuhan yang ditabur dalam hati Sigi tidak dimakan burung di jalan, atau mati terhimpit kekuatiran dan terkikis panasnya matahari, melainkan bertumbuh subur dan berbuah lebat.





Ini gambar jenis-jenis hati dari perumpamaan tadi. Yang manakah hatimu?



Ayat hafalan bulan ini:
Efesus 6:1 Hai anak-anak taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian.

Lagu favorit Sigi sebelum masuk kelas SK adalah jari-jariku bisa berdoa, karena tiap malam sebelum tidur Sigi baca alkitab bergambar sama ayah trus nyanyiin lagu itu sebelum berdoa. Sekarang semenjak ikut SK dia jadi suka lagu haleluya Puji Tuhan karena pakai gerakan tangan digulung-gulung.

Kalau ayah dan bunda, bulan Januari diajari gimana caranya menolong anak untuk taat. 
Prinsip ketaatan (ringkasan buku Growing Kids God's Way):
1. Segera
2. Seutuhnya
3. Tanpa membantah
4. Tanpa mengeluh
"Say what you mean. Mean what you say" anak harus mengerti jelas instruksi orang tua dan ortu harus bersungguh-sungguh dengan setiap ucapannya. Sekarang kita sedang mengajari Sigi untuk merespon saat di panggil dengan datang segera (karena dia belum lancar ngomong jadi belum bisa jawab ya ya ya). Ini agak susah terutama kalau dia lagi asyik main, benar-benar susah sekali walaupun sudah diulang berkali-kali.

Ini ada beberapa tips yang diberikan di kelas SK:
1. Eye contact. Ini harus dilatih, sebagai bentuk anak menghormati dan memperhatikan kata-kata orang tua.
2. First time obidience. Sebagai bentuk penundukan hati anak. Taat itu dengan hati bukan karena terpaksa.
3. Five-minute-warning. Dilakukan ketika kita memberi instruksi tetapi si anak sedang asyik melakukan sesuatu. Tujuannya untuk memberikan waktu pada anak untuk mempersiapkan hati. Misalnya sedang seru-serunya main dipanggil Ayah untuk mandi, dikasih waktu 5 menit untuk menyelesaikan main dan membereskan mainannya.
4. No bribing. Tidak boleh menyuap anak agar menaati instruksi kita. Misal menjanjikan sesuatu saat anak menangis/berperilaku buruk agar dia mau diam. Akibatnya anak akan selalu memakai senjata menangis atau berteriak untuk meminta sesuatu dan orang tua seperti diperas. Sebaliknya, berikan reward sebagai hadiah atas usahanya melakukan hal baik sesuai kesepakatan.
5. No threatening. Tidak boleh menakut-nakuti anak, karena itu berarti memberikan ancaman dan ortu tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Anak akan merasa diperlakukan tidak adil, kalaupun dia taat, itu dilakukan dengan terpaksa bukan rela hati.
6. No negotiating in conflict. Ortu harus mencari nonconflict time untuk memasukkan nilai-nilai ke dalam hati anak, termasuk didikan dan teguran.
7. No nagging. Jangan berikan apa yang diminta ketika dia merengek. Beri contoh cara mengatakan yang benar dengan nada sopan.

Teorinya memang begitu, tapi prakteknya sangaaaaaat sulit. Perlu dilatih terus dan terus., dan tentunya sangat butuh kasih karunia Tuhan setiap hari.

Terima kasih untuk kelas SK bulan Januari, kami sangat merasa diberkati.